Laut Bukanlah Tempat Sampah

Laut Bukanlah Tempat Sampah

Keterangan foto: Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman, Ayodhia G.L. Kalake

Badung. Laut bukanlah persoalan sepele. Sebagai wilayah kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17 ribu pulau, laut menjadi isu prioritas di dalam pemerintah Indonesia khususnya penanganan lingkungan laut. Masalah lingkungan kelautan juga menjadi prioritas penting bagi pemerintah Indonesia. Dalam lokakarya Pendampingan Proses Regular dalam Pelaporan dan Penilaian Kondisi Kelautan Global yang diadakan Pemerintah Indonesia melalui Kemenko Bidang Kemaritiman bersama Persatuan Bangsa Bangsa (PBB) di Padma Resort Bali Legian Badung, Kamis (08/10). Ada beberapa isu penting yang dibahas, antara lain pengelolaan Samudra Hindia, sampah plastik laut, peningkatan kapasitas, penanganan illegal unregulated unreported fishing (IUUF), penanganan tumpahan minyak, penambangan bawah laut, ketahanan pangan, budidaya perikanan, perubahan iklim, dan pariwisata bahari. Isu-isu tersebut dibahas oleh 24 ahli kelautan dari berbagai negara dan 14 ahli dari Indonesia. “Isu lingkungan laut tidak bisa diselesaikan secara parsial. Harus ada kajian komprehensif”, kata Ayodhia G.L. Kalake, Asisten Deputi Delimitasi Zona Maritim Kemenko Bidang Kemaritiman.

Bekumpulnya para ahli kelautan ini memerlukan kajian-kajian faktual mengenai kondisi laut saat ini termasuk perkiraan yang terjadi di masa datang. Kajian itu nantinya akan digunakan oleh para pengambil keputusan di berbagai negara dalam memanfaatkan sumber daya laut. Tantangan dari upaya penyelamatan sumber daya laut yang mendesak adalah tentang perilaku atau budaya hidup masyarakat. Dari beberapa hasil penelitian, ternyata masalah kesehatan lingkungan laut diantaranya berasal dari aktifitas manusia di darat. “Orang buang sampah di darat atau di sungai. Contohnya pantai Kuta kalau pada musim tertentu sampah-sampah terbawa gelombang laut dan kembali lagi ke darat”, jelasnya.

Dikatakan Ayodhia, Kemenko Bidang Kemaritiman aktif mendidik masyarakat khususnya di pesisir untuk memperhatikan laut. “Laut itu bukan tempat sampah tetapi laut adalah sumber kehidupan kita”, tegasnya. Jadi jika ada penelitian yang mengatakan bahwa ikan lebih suka makan plastik daripada plankton, itu artinya tingkat pencemaran laut sudah dalam tahap sangat mengkhawatirkan. “Mikro plastik itu sudah ditemukan pada ikan tidak hanya di laut di Indonesia tetapi juga hampir di seluruh dunia dan ini sudah jadi global isu”, katanya.

Pencemaran air laut sangat berpengaruh terhadap pariwisata bahari. “Seberapa besar tingkat pencemarannya, itu tergantung pada wilayah yang tercemar”, ucap Ayodhia. Di perbatasan Indonesia dengan Singapura, sudah ditemukan sisa-sisa minyak yang mengotori pantai dan memberikan dampak buruk bagi kesehatan masyarakat. Kondisi ini tentunya sangat berengaruh terhadap pariwisata bahari. “Siapa yang mau berenang disana dengan kadar pencemaran yang sedemikian tinggi”, tanyanya sembari menambahkan kondisi ini perlu segera ditangani pemerintah baik pusat maupun daerah untuk bisa mendidik masyarakat dalam menjaga lingkungannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *