Ogoh-Ogoh “Detya Manaru” STT Catur Yoga Desa Adat Anturan Sabet Juara I Lomba Ogoh-Ogoh Tingkat Kabupaten

Ogoh-Ogoh “Detya Manaru” STT Catur Yoga Desa Adat Anturan Sabet Juara I Lomba Ogoh-Ogoh Tingkat Kabupaten

Ogoh-ogoh “Sang Hyang Kala Raksa” karya STT Tunas Teratai Tunjung Mekar, Desa Adat Sudaji. (foto: ist.)

Buleleng (Penabali.com) – Tiga peserta terbaik dari Lomba Ogoh-Ogoh Tingkat Kabupaten, masing-masing juara pertama diraih sekeha teruna-teruni (STT) Catur Yoga Desa Adat Anturan Kecamatan Buleleng dengan judul “Detya Manaru”, juara dua STT Giri Kusuma Desa Adat Pancasari Kecamatan Sukasada dengan judul “Sang Jogor Manik”, dan juara ketiga STT Tunas Teratai Tunjung Mekar Desa Adat Sudaji, Kecamatan Sawan dengan judul “Sang Hyang Kala Raksa”.

Ketiga juara berhak membawa pulang hadiah uang tunai dan piagam perhargaan yakni Juara I Rp.50 juta, Juara 2 Rp.35 juta dan Juara 3 Rp.25 juta.

“Para pemenang sudah ditetapkan berdasarkan rapat pleno tim juri yang terdiri dari seniman, praktisi dan unsur Dinas Kebudayaan yang juga dihadiri tim dari provinsi pada 6 April lalu,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, I Nyoman Wisandika, Jumat (8/4/2022).

Wisandika menambahkan, proses penilaian sebelumnya dari tingkat kecamatan sudah dimulai sejak tanggal 15 – 25 Maret 2022 dengan peserta 33 ogoh-ogoh, kemudian mengkerucut menjadi 3 terbaik di masing-masing kecamatan, lalu tahap akhir tingkat kabupaten.

Disinggung terkait kriteria penilaian, mantan Sekretaris BKPSDM ini menerangkan, unsur penilaian diantaranya keunikan tema, teknik kontruksi, karakter, proporsi, komposisi dan juga kreativitas.

“Sumber hadiahnya, semua bersumber dari Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, dan penyerahan hadiah akan dilakukan oleh Gubernur Bali, hanya tinggal menunggu informasi lebih lanjut dari provinsi, menyesuaikan agenda bapak Gubernur,” tambahnya.

Masih kata Kadis Wisandika, dirinya berharap kedepan situasi membaik, persiapan lebih panjang, sehingga lebih banyak peserta yang ikut, muncul kreatifitas, inovasi yang baru dari para yowana adat.

“Lomba ini merupakan wadah atau ruang untuk menyalurkan kreatifitas para yowana adat dalam melestarikan seni budaya Bali,” pungkasnya. (rls)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *