Bali Alami Tekanan Harga di Bulan Juni 2020, KPw BI Bali: “BI konsisten jaga stabilitas harga”

Bali Alami Tekanan Harga di Bulan Juni 2020, KPw BI Bali: “BI konsisten jaga stabilitas harga”

Foto: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mengungkapkan tekanan harga di Provinsi Bali pada bulan Juni 2020 menunjukkan peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya. Inflasi didorong oleh peningkatan tekanan harga pada kelompok inflasi inti, sementara kelompok barang yang harganya diatur pemerintah (Administered Price) dan kelompok bahan pangan (Volatile Food) masih mengalami deflasi.

Core Inflation pada bulan Juni tercatat sebesar 0,24% (mtm), meningkat dibandingkan dengan bulan Mei yang deflasi sebesar 0,31% (mtm). Peningkatan ini terjadi utamanya didorong oleh peningkatan harga emas perhiasan. Naiknya harga emas perhiasan sejalan dengan peningkatan harga emas dunia seiring dengan resurgence Covid-19 di beberapa negara. Selain emas perhiasan, harga beberapa komoditas dalam kelompok peralatan rumah tangga seperti pasta gigi dan diapers juga menunjukkan peningkatan.

Pada bulan ini komoditas Volatile Food masih mengalami deflasi sebesar 0,25% (mtm), tertahan jika dibandingkan dengan Mei 2020 (-1,20%, mtm). Penurunan terdalam terlihat untuk bawang merah, cabai rawit, bawang putih, minyak goreng, dan sawi hijau. Turunnya harga bawang merah terjadi setelah normalisasi harga pasca Hari Raya Lebaran, dimulainya panen bawang merah di sentra produksi serta distribusi yang lancar. Namun demikian, khusus untuk komoditas daging ayam ras masih menunjukkan peningkatan harga meskipun peningkatannya tidak signifikan.

Selanjutnya, tekanan harga untuk komoditas Administered Price tercatat deflasi sebesar 0,10% (mtm). Penurunan tekanan harga disebabkan oleh turunnya tarif angkutan udara pasca meningkat signifikan pada bulan Mei. Namun demikian, penurunan ini tertahan karena adanya kenaikan tarif angkutan antar kota mulai meningkat seiring dengan dimulainya normalisasi kegiatan ekonomi.

Trisno mengatakan, Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) kabupaten dan provinsi terus berupaya untuk menjaga kestabilan pasokan dan harga di masyarakat. TPID rutin melakukan sidak dan operasi pasar di beberapa kabupaten/kota, utamanya dalam menghadapi penyebaran covid-19 di Bali.

“Selain itu, TPID juga akan melakukan gerakan Lumbung Pangan untuk memastikan distribusi kepada seluruh lapisan masyarakat di Bali,” kata Trisno, Rabu (01/06/2020), di Denpasar.

Berdasarkan perhitungan BPS (Badan Pusat Statistik), pada Juni 2020 Provinsi Bali mengalami inflasi sebesar 0,11% (mtm), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang mengalami deflasi sebesar 0,11% (mtm). Sementara itu pencapaian inflasi nasional tercatat sebesar 0,18% (mtm). Secara tahunan, inflasi Bali tercatat sebesar 2,18% (yoy), lebih tinggi dibandingkan dengan nasional yang sebesar 1,96% (yoy).

“Namun demikian, inflasi Bali pada Juni 2020 masih berada dalam rentang sasaran inflasi nasional 3,0%±1% (yoy). Inflasi terjadi pada kedua kota sampel IHK yaitu kota Denpasar yang tercatat sebesar 0,08% (mtm) dan kota Singaraja mencatat inflasi sebesar 0,32% (mtm),” terangnya.

Bank Indonesia memperkirakan inflasi pada Juli 2020 akan tetap terkendali dan berada pada kisaran sasaran 3,0±1%. Meskipun demikian, dimulainya kegiatan ekonomi berpotensi meningkatkan tekanan inflasi pada Juli 2020.

Menghadapi potensi tantangan tersebut, ujar Trisno, Bank Indonesia Provinsi Bali akan tetap konsisten menjaga stabilitas harga dan memperkuat koordinasi kebijakan dengan Pemerintah Daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) guna memastikan inflasi terjaga dalam kisaran sasaran nasional. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *