Di Mata Sastrawan Bali: Sosok Ngurah Ambara Dinilai Satya Wacana Ajegkan Seni, Adat dan Budaya Bali

Di Mata Sastrawan Bali: Sosok Ngurah Ambara Dinilai Satya Wacana Ajegkan Seni, Adat dan Budaya Bali

Foto: Cawali Paket Amerta, Gede Ngurah Ambara Putra (paling kanan-pegang mik), saat sedang mekekawin di Puri Gerenceng dalam satu kesempatan beberapa waktu lalu.

Berbagai dukungan serta pendapat positif mengalir kepada Calon Walikota dan Wakil Walikota Denpasar Periode 2020-2025 nomor urut 2, Gede Ngurah Ambara Putra dan Made Bagus Kertanegara (Paket Amerta). Tentu hal tersebut semakin memantapkan langkah sosok pemimpin Denpasar yang selalu komit dan konsisten mengajegkan seni, adat dan budaya Bali ini.

Seperti disampaikan salah satu sastrawan Bali khususnya yang berkaitan dengan kekidung Bali, Wayan Seregeg, saat dihubungi Senin (28/9/2020). Ia menyampaikan dilihat dari kaca mata pribadi sosok Calon Walikota Gede Ngurah Ambara Putra sangat baik. Ia mengaku mengenal Cawali Ambara Putra karena sama-sama menyukai seni sastra seperti kekawin dan mekekidung.

“Beliau juga sering mengirim piranti kepada saya melalui smartphone, dan diminta untuk memberikan penjelasan-penjelasan khususnya berkaitan di bidang sastra dan kerohanian. Karena saya juga senang memberi penjelasan-penjelasan tersebut. Akhirnya sampai saat inipun, saya masih menjalin hubungan baik dengan beliau guna selalu membahas terkait sastra Bali,” jelas Seregeg.

Selain berkomunikasi via handphone, Seregeg juga mengaku sering bertemu secara langsung dalam waktu dan kesempatan tertentu.

“Kurang lebih pada tanggal 26 bulan lalu saya sempat bertemu dengan beliau. Tentu pertemuan yang dilakukan masih berkaitan dengan sastra Bali,” ujarnya.

Sekali lagi menurut pendapat pribadinya, sosok Gede Ngurah Ambara Putra bisa disamakan dengan sosok Patih Gajah Mada pada masanya. Karena, jika dilihat sosok Patih Gajah Mada tersebut ingin menyatukan Nusantara. Sedangkan sosok Ngurah Ambara pun sama, akan tetapi jalannya saja yang membedakan.

“Jika dilihat Gajah Mada kekuasaan dipakai, sedangkan Pak Ngurah dimata saya pribadi seni dan budaya dipakai alat. Selain itu, jika diamati beliau juga sangat konsen dan tidak main-main terkait dengan hal tersebut (seni, adat, dan budaya Bali, red),” ungkapnya.

Dirinya juga menilai, bahwa sosok Ngurah Ambara sangat komit dan konsisten mengajegkan seni dan budaya Bali sampai ke luar Bali. Karena sebelumnya menurut Seregeg, sempat dirinya mengikuti perjalanan Ngurah Ambara hingga ke Lampung karena disana banyak saudara-saudara atau krama Bali.

“Ya, tentu misi beliau adalah tetap ingin menyebarkan seni dan budaya Bali tersebut,” ucapnya.

Foto: Wayan Seregeg.

Ia lalu mencontohkan. Ngurah Ambara telah merealisasikan Radio Pancar Ulang (RPU) yang telah dibangun sebanyak 5 unit RPU di Bali.

“Adapun RPU dibantu tersebut tersebar di beberapa titik mulai di Puncak Sari, Penulisan, Lempuyang serta ada juga di daerah Negara (Jembrana, red). Tentu dengan sentuhan bantuan tersebut, akan mampu dijadikan sebagai salah satu alat melestarikan seni dan budaya sastra Bali pada khususnya,” harapnya.

Selain itu, dengan RPU tersebut tentu akan mampu memperat persahabatan dan persatuan. Bisa dipertemukan meskipun sama sekali tidak pernah saling bertemu secara langsung sebelumnya. Yang luar biasa lagi, hal tersebut mampu merambah ke daerah Banyuwangi juga.

“Jadi, bisa saling kenal lewat udara maupun darat,” cetusnya.

Seregeg menyebutkan, jika dilihat di Bali khususnya banyak yang kaya akan tetapi belum bisa dilihat sama seperti sosok Ngurah Ambara.

“Yang lain hanya wacana saja mau mengajegkan budaya Bali, akan tetapi sosok Ngurah Ambara mulai dari pemikiran, wacana maupun pelaksanaanya telah sesuai,” sebutnya.

“Bisa dikatakan satunya pikiran, kata maupun perbuatan beliau atau kuatnya sosok beliau dalam upaya mengajegkan bidang seni dan budaya tentu akan sangat bagus sekali hal tersebut,” sambuhnya.

Seregeg juga mengutarakan, tanggal 30 September 2020 akan dilaksanakan lomba sejenis utsawa dharma gita yang diselenggarakan Paguyuban Dirgahayu Ambara Swara. Paguyugan ini jelasnya, inisiator dan penggagasnya adalah Ngurah Ambara.

“Lomba ini rutin beliau gelar. Dan setiap pelaksanaan lomba beliau selalu memberikan hadiah tak hanya kepada pemenang tapi juga seluruh peserta ada hadiahnya. Jadi menurut pribadi saya beliau memang sangat komit melestarikan seni budaya Bali,” tegas pria asal Buleleng ini. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *