Dukung Ekonomi Produktif, Agek Parwati: “Perempuan Bali mampu berkontribusi”

Dukung Ekonomi Produktif, Agek Parwati: “Perempuan Bali mampu berkontribusi”

Foto: Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd., M.Pd.

Penabali.com – Seiring terbukanya kesetaraan gender, peran perempuan menjadi semakin strategis dalam mendukung pembangunan daerah. Salah satunya menyukseskan terwujudkan ekonomi kreatif. Hal itu disampaikan Ni Wayan Parwati Asih, S.Pd., M.Pd., saat menjadi pembicara pada seminar nasional yang diadakan dalam rangka HUT ke-68 Yayasan Dwijendra, Jumat (22/01/2021) kemarin.

Seminar yang mengangkat tema “Pemberdayaan Perempuan Dalam Pembangunan Nasional” itu digelar secara daring dengan menghadirkan keynote speaker Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) I Gusti Ayu Bintang Darmawati. Pembicara lainnya, antara lain Rektor Dwijendra University Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., Ketua TUK / LKP Agung Dr. Dra. A.A. Ayu Ketut Agung, M.M., dan dipandu Drs. I Made Sila, M.Pd.

“Perempuan memiliki peran ganda antara domestik dan publik. Bagaimana perempuan mengurus keluarga di rumah, mengurus anak- anak, serta perempuan ikut mencari nafkah untuk ekonomi keluarga,” ujar Parwati Asih.

Ibu tiga anak yang juga seorang pengusaha itu mengatakan dalam menyukseskan ekonomi produktif, sejumlah keterlibatan perempuan meliputi perempuan terlibat sebagai sumber pertumbuhan ekonomi, pemberdayaan masyarakat dan menciptakan lapangan pekerjaan.

“Peran perempuan sangat strategis, selain mengurus keluarga ia juga punya jiwa wirausaha, meningkatkan pendapatan,” kata Direktur Utama CV. Jenget Prabhu Digital Solution ini.

Dalam berwirausaha, lanjutnya, perempuan berperan sangat strategis dalam meningkatkan kualiatas hidup keluarga, lingkungan dan membangun masyarakat sekitar.

“UMKM perempuan saat ini lebih dari 50 persen yang sangat berpotensi menciptakan alternatife pendapatan bagi keluarga,” perempuan yang biasa disapa Agek Parwati.

Seiring strategisnya peran perempuan, Agek menilai ada sejumlah tantangan. Antara lain, kontruksi sosial dan budaya yang identik dengan pekerjaan domestik banyak menghadapi tekanan sosial. Serta kurangnya akses pemasaran dan pemahaman akan teknologi.

Selain itu juga kurangnya akses permodalan/akses layanan pinjaman terhadap wirausaha perempuan masih rendah. Akses pendidikan berwirausaha atau peningkatan SDM.

“Maka perlu penataan secara kelembagaan dan jejaring. Mengingat jumlah sensitifitas gender di kalangan masyarakat,” terangnya.

Ditengah tantangan itu, Agek yakin perempuan Bali dapat beradaptasi ditengah perkembangan era. Dia meyakini peluang wirausaha perempuan sangat banyak, dan berbagai peluang sektor usaha sangat terbuka bagi perempuan. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *