Jelang Suksesi Pilkada Karangasem, Penantang Petahana Harus Punya “O3”

Jelang Suksesi Pilkada Karangasem, Penantang Petahana Harus Punya “O3”

Foto: Tokoh masyarakat Karangasem, yang juga caleg terpilih DPRD Bali periode 2019-2024, Nyoman Purwa Arsana.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Kabupaten Karangasem akan segera dihelat tahun 2020 mendatang. Bersamaan dengan itu, pilkada juga digelar serentak di lima kabupaten/kota di Bali yakni Kabupaten Tabanan, Kota Denpasar, Kabupaten Badung, Kabupaten Jembrana, dan Kabupaten Bangli.

Khusus bagi suksesi kepala daerah di kabupaten ujung timur Pulau Bali ini, masyarakat menginginkan sosok pemimpin yang tak hanya punya kecerdasan intelektual, tetapi juga memiliki relasi network yang luas, punya jiwa yang tegas, dan berani membuat gebrakan dan terobosan pembangunan. Asa itu masuk akal karena stigma Kabupaten Karangasem yang kerap dianggap daerah yang kering, sangat diharapkan masyarakat agar berganti wajah menjadi daerah yang pembangunnnya maju, adil, merata, dan imbasnya memberikan dampak positif bagi kesejahteraan rakyatnya.

“Karangasem itu adalah wilayah yang memang harus digarap sangat serius. Makanya diperlukan pemimpin yang betul-betul berani menyulap daerah ini bisa maju dan sejahtera,” kata salah seorang tokoh Karangasem, Nyoman Purwa Arsana, di Denpasar, Kamis (4/7).

Foto: Nyoman Purwa Arsana.

Kabupaten Karangasem saat ini dipimpin Bupati dan Wakil Bupati IGA Mas Sumatri dan Wayan Artha Dipa. Pasangan kepala daerah ini baru satu periode memimpin kabupaten yang dijuluki Bumi Tanah Aron. Pada Pilkada Karangasem tahun 2020 mendatang, perempuan dari kader Partai Nasdem itu dipastikan akan kembali maju untuk merebut kursi Karangasem 1 periode kedua. Sebagai calon petahana, Mas Sumatri oleh lawan politiknya masih dianggap cukup kuat, termasuk juga dari sisi finansial.

Purwa Arsana mengatakan, “penantang” Mas Sumatri haruslah calon yang siap “puputan”. Bekal melawan calon petahana tak hanya kuat strategi, namun lebih dari itu harus kuat segalanya. Modalnya itu O3 yaitu Otak, Otot, dan Ongkos. Otak, orangnya harus cerdas, kreatif, inovatif, network luas, tegas dan berani. Otot, ia harus punya massa yang militan, dan Ongkos, tentu finansial harus kuat, tak bisa hanya modal dengkul saja.

“Jangan mimpi mau lawan calon incumbent kalau tak punya strategi dan modal finansial yang kuat,” tegas pria asal Desa Bugbug yang pada Pileg 2019 berhasil merebut satu kursi ke DPRD Bali periode 2019-2024. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *