Komitmen Bali Menuju Energi Bersih, GM PLN UID Bali: Tingkatkan Nilai Jual Bali Sebagai Tujuan Wisata

Komitmen Bali Menuju Energi Bersih, GM PLN UID Bali: Tingkatkan Nilai Jual Bali Sebagai Tujuan Wisata

Foto: General Manajer PLN UID Bali, Nyoman Suwarjoni Astawa.

Bertempat di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, Denpasar, Selasa (12/11/2019), Gubernur Bali Wayan Koster mengeluarkan dua Peraturan Gubernur (Pergub). Dua Pergub tersebut adalah Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 Tentang Bali Energi Bersih, dan Peraturan Gubernur Bali Nomor 48 Tahun 2019 Tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai.

Peraturan Gubernur Nomor 45 Tentang Bali Energi Bersih terdiri dari 11 Bab dan 33 Pasal dengan semangat utama menjamin pemenuhan semua kebutuhan energi di Bali secara mandiri, ramah lingkungan, berkelanjutan, dan berkeadilan dengan menggunakan energi bersih. Sedangkan Peraturan Gubernur Nomor 48 Tahun 2019 Tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik (KBL) Berbasis Baterai, terdiri dari 17 Bab dan 25 pasal.

General Manajer PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Bali Nyoman Suwarjoni Astawa di Rumah Jabatan Gubernur Bali, Jaya Sabha, mengatakan Pergub tentang Penggunaan Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai, PLN telah siap untuk mengembangkan infrastrukturnya.

“Saat ini sudah ada 127 titik Stasiun Pengisian Listrik Umum (SPLU) yang tersebar di Bali. Untuk kendaraan listrik yang roda empat kami sudah pasang dua di depan Tiara Dewata. Bahkan rencananya ada perusahaan taksi nasional yang akan mengoperasikan 100 taksi dengan kendaraan listrik dan PLN diminta untuk membangun SPLU agar taksi ini bisa ngecas. Nanti akan kami bangun ditempat yang strategis seperti obyek wisata sehingga pengguna kendaraan listrik akan semakin nyaman berkendara di jalan raya,” beber Suwarjoni.

Penyediaan, pemanfaatan dan pengembangan energi bersih sesuai Peraturan Gubernur Nomor 45 Tentang Bali Energi Bersih akan berfokus pada sumber energi terbarukan. Seperti sinar matahari, tenaga air, angin, panas bumi, biomassa, biogas, sampah di kota/desa, gerakan dan perbedaan suhu lapisan laut, serta bahan bakar nabati cair.

Suwarjoni menerangkan, kalau pakai air skalanya kecil karena air sungai debitnya tidak mencukupi untuk digunakan sebagai tenaga listrik. Energi panas bumi juga memungkinkan namun tidak boleh dikembangkan, meski ada beberapa titik panas bumi bisa dikembangkan walaupun saat ini belum ada studi berapa potensi dapat dimanfaatkan.

Energi terbarukan dari sumber arus laut jelas Suwarjoni, sedang diuji dan diukur berapa potensi arus laut utamanya di Nusa Penida karena arusnya cukup deras walaupun sekarang sudah banyak pembangkit-pembangkit yang menggunakan turbin arus laut.

“Kalau angin juga kurang mendukung. Jadi yang paling ideal energi baru terbarukan di Bali adalah tenaga surya. Tenaga surya ini didukung oleh pergub dimana green building atau bangunan ramah lingkungan dari sisi penggunaan energinya semakin hemat karena saluran udaranya lancar sehingga orang akan mengurangi menggunakan AC, kemudian energi listriknya rooftop yang dipasang,” ujarnya.

Pergub Nomor 45 dan 48 Tahun 2019 ini merupakan wujud nyata keseriusan Pemerintah Provinsi Bali dalam mengimplementasikan Visi “Nangun Sat Kerthi Loka Bali” melalui Pola Pembangunan Semesta Berencana menuju Bali Era Baru. Kedua Peraturan Gubernur ini juga akan mempercepat upaya Pemprov Bali untuk melindungi dan memperbaiki alam lingkungan Bali beserta segala isinya.

“Pergub inilah yang dapat mendorong bagaimana Bali memanfaatkan secara maksimal potensi-potensi energi bersih yang bisa digunakan untuk menghasilkan listrik sehingga ini akan meningkatkan nilai jual Bali sebagai tujuan wisata. Bukan hanya karena budayanya tetapi Bali juga akan makin dikenal karena bijak menjaga alam. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *