Kurangi Risiko Kesehatan dan Ekosistem Lingkungan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Solusi Efektif

Kurangi Risiko Kesehatan dan Ekosistem Lingkungan, Produk Tembakau Alternatif Jadi Solusi Efektif

Foto: Diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Berdiskusi, yang mengangkat topik "Wujudkan Bali Bersih Melalui Ekosistem yang Sehat, Pengurangan Risiko Tembakau Sebagai Solusi Mengatasi Masalah Rokok di Bali, berlangsung di Ayucious Resto & Lounge Jalan Letda Tantular, Renon, Denpasar, Selasa (14/5).

Peneliti Yayasan Pemerhati Kesehatan Publik (YPKP) Dr. drg. Amalia, MSc., PhD., mengatakan masyarakat perlu mendapat edukasi mengenai zat berbahaya yang terkandung didalam asap rokok khususnya rokok konvensional. Karena itu, perlu adanya dukungan dari Pemerintah Provinsi Bali untuk memperkenalkan konsep pengurangan risiko bagi rokok melalui produk tembakau alternatif atau rokok elektrik yang tidak melalui proses pembakaran melainkan pemanasan sehingga menghasilkan uap bukan asap. Rokok alternatif tidak menghasilkan TAR dan berbagai zat kimia berbahaya bagi tubuh manusia.

“Pengurangan risiko terhadap dampak rokok konvensional terhadap kesehatan harus segera dilakukan meski tidak serta merta dapat diubah dengan cepat. Kita perlu belajar dengan negara lain seperti Inggris misalnya yang telah merubah perilaku perokok konvensional beralih ke rokok elektrik dan ini berhasil,” beber Amalia, saat diskusi yang diselenggarakan Forum Wartawan Berdiskusi, yang mengangkat topik “Wujudkan Bali Bersih Melalui Ekosistem yang Sehat, Pengurangan Risiko Tembakau Sebagai Solusi Mengatasi Masalah Rokok di Bali, berlangsung di Ayucious Resto & Lounge Jalan Letda Tantular, Renon, Denpasar, Selasa (14/5).

Ditambahkan, dengan menerapkan konsep pengurangan risiko dan adanya produk tembakau alternatif, Inggris sukses menurunkan jumlah perokoknya hingga 14,9 persen pada tahun 2017.

“Sebelumnya tahun 2012 jumlah perokok di Inggris mencpai 19,3 persen dari total populasi dewasa,” sebut Amalia yang juga Ketua Koalisi Indonesia Bebas TAR (KABAR).

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik Provinsi Bali tahun 2018, angka prevalensi perokok di Bali tercatat mengalami peningkatan. Angka perokok remaja dari tahun 2016 yang berjumlah 11,2 persen naik pada tahun 2017 hingga 14,1 persen.

“Kita berharap pemerintah bisa membuat regulasi untuk menerapkan konsep pengurangan risiko rokok konvensional seperti yang telah diterapkan di beberapa negara seperti Inggris dan yang paling anyar Amerika telah melakukan ini,” ujarnya sembari menambahkan jumlah perokok yang tinggi dipastikan dapat menurunkan derajat kesehatan manusia dan ekosistem lingkungan khususnya pada kualitas udara karena asap yang dihasilkannya.

Sementara itu, Ketua Asosiasi Vaporizer Bali (AVB) I Gde Agus Mahartika menyatakan, banyak sisi positif dari penggunaan rokok elektrik atau produk tembakau alternatif. Tak dapat dipungkiri, kehadiran outlet-outlet yang menjual alat rokok rokok elektrik dan produk tembakau alternatif mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

“Kehadiran produk tembakau alternatif turut mendorong pertumbuhan UMKM yang berdampak terhadap terbukanya lapangan pekerjaan baru,” kata Gde Maha.

Disinggung soal belum adanya regulasi yang mengatur konsep pengurangan risiko bagi rokok melalui produk tembakau alternatif, Gde Maha mendorong Pemprov Bali segera membuat aturan khusus termasuk peringatan kesehatan yang berbeda dari rokok, penjualan, promosi, iklan, sponsorship, tempat penggunaan, serta batasan usia penggunanya sehingga para produsen dan konsumen mendapatkan kepastian hukum.

“Produk tembakau alternatif tidak hanya memberikan potensi manfaat bagi perokok dewasa tapi juga bagi lingkungan di sekitarnya,” pungkasnya.( red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *