Pasar Sindhu jadi Pasar Tradisional Digital Berbasis QRIS, Rai Wirajaya Dorong Bank Indonesia Berinovasi Galakkan Gerakan Non Tunai

Pasar Sindhu jadi Pasar Tradisional Digital Berbasis QRIS, Rai Wirajaya Dorong Bank Indonesia Berinovasi Galakkan Gerakan Non Tunai

Foto: Anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya, di acara peresmian Pasar Sindhu menjadi kawasan pasar tradisional digital berbasis QRIS, Sabtu (27/06/2020).

Sampai dengan akhir Juni 2020, jumlah merchant QRIS (Quick Response Code Indonesia Standard) di Provinsi Bali telah mencapai hampir 100.000. Dimana 51 persen merchant ada di Kota Denpasar.

“Tiap minggu kenaikannya 5 sampai 7 ribuan dan kita dorong perbankan lebih agresif dalam implementasi pembayaran berbasis QRIS,” ungkap Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, disela acara peresmian Pasar Sindhu sebagai pasar tradisional digital berbasis QRIS, Sabtu (27/06/2020).

Foto: Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho.

Trisno mengaku optimis, dengan adanya komitmen perbankan dan dukungan dari pemerintah daerah, merchant yang akan menggunakan QRIS hingga akhir tahun 2020 minimal mencapai 200.000.

Implementasi penggunaan sarana QRIS telah dikenalkan di Bali mulai dari acara Rakornas Transaksi Non Tunai Pemda seluruh Indonesia di Sanur pada tanggal 7 November 2019.

Trisno mengatakan pasar rakyat atau pasar tradisional sangat rentan terhadap penyebaran covid-19. Terlebih saat ini, peningkatan jumlah angka positif covid-19 di Bali khususnya di Kota Denpasar terus bertambah akibat penularan transmisi lokal yang terjadi di pasar tradisional (klaster pasar).

“Perlu disiapkan protokol kesehatan termasuk sarana pembayaran yang digital agar masyarakat khususnya pembeli dan pedagang aman berniaga, produktif dan sehat,” kata Trisno didampingi anggota Komisi XI DPR RI, I Gusti Agung Rai Wirajaya.

Sementara itu Rai Wirajaya menyatakan sangat mengapresiasi upaya Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali dalam mendorong pasar rakyat menjadi pasar tradisional digital berbasis QRIS.

Foto: Disela peresmian, I Gusti Agung Rai Wirajaya saat menyerahkan masker dan face shield kepada pedagang di Pasar Sindhu, Sanur, Denpasar.

Anggota Fraksi PDI Perjuangan dari dapil Bali ini mengatakan akan terus mendorong Bank Indonesia dan kalangan perbankan khususnya untuk menyediakan sarana pembayaran digital di berbagai jenis usaha sehingga resiko penyebaran covid-19 bisa ditekan sekecil mungkin.

“Pasar menjadi klaster yang sangat rentan penularan virus corona. Karena itu dengan langkah Bank Indonesia Provinsi Bali bersama pemerintah daerah dan perbankan untuk menerapkan pasar rakyat sebagai pasar tradisional digital berbasis QRIS akan terus kita dorong. Saya di Komisi XI terus mendorong Bank Indonesia berinovasi untuk menggalakkan gerakan non tunai,” ujar politisi asal Desa Peguyangan, Denpasar ini.

Senada dengan Trisno Nugroho, politisi senior banteng moncong putih ini mendorong masyarakat dan pelaku usaha di Bali untuk melakukan transaksi pembayaran secara non tunai menggunakan QRIS. Selain aman dan efisien, QRIS juga efektif untuk meminimalisir risiko penularan covid-19.

“Mari kita saling mendukung, bergotong royong dan bahu membahu mencegah penyebaran covid-19. Dengan transaksi pembayaran digital berbasis QRIS kita sudah siap bertransformasi menuju tatanan kehidupan era baru yang bersih, sehat dan aman,” tegas lulusan English Course Edith Cowwan, University Perth Western Australia tahun 1997 ini. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *