Program Sekolah Duta Lingkungan Hidup Ajarkan Siswa SD Olah Sampah jadi Kompos

Program Sekolah Duta Lingkungan Hidup Ajarkan Siswa SD Olah Sampah jadi Kompos

Foto: Program Sekolah Duta Lingkungan Hidup yang melibatkan 10 sekolah dasar di Denpasar.

Sebanyak 10 Sekolah Dasar (SD) di Kota Denpasar mengikuti program Sekolah Duta Lingkungan Hidup yang merupakan kegiatan kerjasama antara Yayasan Danamon Peduli, PPLH Bali dan Bali Wastu Lestari.

Kegiatan ini telah berlangsung sejak bulan Desember 2019 hingga Februari 2020. Akibat wabah pandemi covid-19, kegiatan ini terpaksa terhenti. Namun secara umum seluruhbkegiatan telah berjalan dengan baik.

Program Sekolah Duta Lingkungan Hidup bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan menuju sekolah bebas sampah. Menjadikan sekolah role model dalam pengelolaan sampah organik dan anorganik. Meningkatkan metode pengelolaan sampah organik menjadi kompos dan anorganik masuk bank sampah. Menurunkan angka pembuangan sampah plastik ke laut.

“Program ini adalah bentuk nyata kepedulian Bank Danamon terhadap masalah lingkungan. Kami berharap dengan adanya kegiatan ini sekolah dapat membekali siswanya kepedulian terhadap lingkungan. Warga sekolah juga harus mampu mengolah sampah yang dihasilkannya secara mandiri,” jelas Sony dari Yayasan Danamon Peduli.

Sepuluh SD di Denpasar yang telah melewati tahap seleksi, tanda tangan kesepakatan kerjasama dan mendapatkan pendampingan rutin selama tiga bulan. Pendampingan pengelolaan sampah organik dari PPLH Bali, sedangkan untuk sampah anorganik kerjasama dengan Bali Wastu Lestari.

PPLH Bali memberikan pelatihan pembuatan kompos, pelatihan pembuatan mikroorganisme lokal (MOL), pelatihan pembuatan biopori dan pelatihan berkebun sehat.

Sekolah menghasilkan sampah organik dari kebun dan kantin sekolah. Selama kegiatan berjalan, sampah organik yang berhasil dikompos dari masing-masing sekolah dari 5 Kg sampai 76,11 Kg. Jadi rata-rata sampah yang dikompos adalah 31,689 Kg selama 3 bulan untuk 10 sekolah.

“Artinya sudah 316,890 Kg tidak terbuang lagi ke TPA. Jika diikuti oleh semua sekolah di Denpasar maka berton-ton beban TPA berkurang,” ujarnya.

Sementara itu Direktur PPLH Bali, Catur Yudha Hariani menjelaskan sampah organik dari sekolah hendaknya diolah di sekolah untuk dijadikan kompos. Kompos tersebut dapat dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kebun sehat.

“Sekitar 70% sampah organik selama ini dibuang begitu saja sehingga mencemari tanah, air, laut dan telah terbentuk gunung di TPA,” kata Yudha.

Pendampingan sampah anorganik oleh Bali Wastu Lestari mengajak warga sekolah untuk menabungkan sampah an organik untuk didaur ulang. Nasabah bank sampah pada 10 sekolah telah di-link-kan juga dengan Sistem Informasi Sadar Lingkungan (SiDarling) yang dikelola oleh DLHK Kota Denpasar.

“Program ini sangat menarik karena ada kegiatan berkebun dan siswa dilibatkan untuk melakukan pemilahan sampah. Luar biasa. Terima kasih”, kata salah satu guru, I Gusti Ngurah Made Wira Dharma Putra.

Ke-10 sekolah yang mendapat pendampingan adalah SDN 22 Dauh Puri, SDN 26 Dangin Puri, SDN 33 Dangin Puri, SD Saraswati 5, SDN 6 Sumerta, SDN 13 Kesiman, SDN 17 Dauh Puri, SDN 11 Sumerta dan SDN 7 Dauh Puri.

Masing-masing sekolah kemudian menunjuk 20 sampai 32 siswa sebagai kader sekolah Duta Lingkungan Hidup. Kader ini dilatih PPLH Bali untuk menjadi tutor sebaya yang diharapkan dapat mengajak siswa lainnya untuk lebih peduli terhadap lingkungan.

“Saya sangat senang dapat mengikuti program ini karena saya diajarkan untuk mengolah sampah dan mengurangi penggunaan sampah plastik, membuat pupuk kompos dan pembuatan mol,” ungkap I Putu Gede Diva Arya Wibawa, kader Sekolah Duta Lingkungan Hidup dari SDN 6 Sumerta.

Kader sekolah lainnya dark SDN 3 Kesiman, Made Kirana Purnama Sari Bukian, juga mengaku senang dengan kegiatan ini karena bisa menyelamatkan lingkungan.

“Saya senang karena saya diajarkan untuk menyelamatkan alam dan semoga banyak orang bisa mengurangi plastik dari hal-hal yang kecil,” ungkap Kirana.

Kegiatan di 10 sekolah terpaksa terhenti sejak sekolah ditutup karena dalam masa pandemi covid-19 dan untuk mencegah penyebaran virus corona makin meluas. Meski begitu, Yayasan Danamon Peduli, PPLH Bali, Bali Wastu Lestari berharap kegiatan ini dapat dilanjutkan secara mandiri saat sekolah sudah kembali dibuka. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *