Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi Terabas 480,54 Hektar Lahan Pertanian, 97 Subak Terancam Hilang

Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi Terabas 480,54 Hektar Lahan Pertanian, 97 Subak Terancam Hilang

Guru Besar Fakultas Pertanian Unud Prof. Windia (berdiri) saat diskusi publik. (foto: ist.)

Denpasar (Penabali.com) – Front Demokrasi Perjuangan Rakyat Bali (Frontier Bali), WALHI Bali dan LST (Lingkar Studi Tumbuh) Singaraja, mengadakan diskusi publik terkait peluncuran peta subak yang diterabas rencana Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi di Sekretariat Bersama Jl. Dewi Madri IV No.2, Denpasar, Minggu (31/10/2021) kemarin.

Sebagai pemantik diskusi, hadir Prof. I Wayan Windia yang merupakan Guru Besar Fakultas Pertanian Unud dan Ketua Stispol Wira Bakti, Made Krisna ‘Bokis’ Dinata, S.Pd., selaku Manajer Advokasi dan Kampanye WALHI Bali, Bimo Pratama Mahasiswa Geografi Undiksha Singaraja dan sebagai moderator Natri Krisnawan, S.Pd., selaku Sekjen Frontier Bali.

Dalam diskusi tersebut terkuak fakta bahwa lahan pertanian yang diterabas oleh Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi seluas 480,54 Ha dimana terdapat total 97 subak yang diterabas.

“Dari hasil digitasi dan turun ke lapangan, kami temukan di Jembrana ada 253,52 hektar, di Tabanan ada 212,89 Ha dan Badung ada 14,13 Ha. Jadi total sawah yang diterabas proyek tol Gilimanuk-Mengwi adalah 480,54 Ha,” jelas Bimo Pratama yang juga aktif di LST Singaraja.

Lebih lanjut, Bimo juga menjelaskan bahwa dari hasil turun ke lapangan, sepanjang Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi, subak yang diterabas di Jembrana sebanyak 34 subak, di Tabanan sebanyak 54 subak dan di Badung sebanyak 9 subak.

“Sehingga total ada 97 subak yang teridentifikasi diterabas oleh Proyek Tol Gilimanuk-Mengwi,” imbuhnya.

Lebih jauh Bino menjelasakan, saat dirinya bersama tim melakukan survey di Kabupaten Badung, mereka menemukan fakta bahwa Subak Yeh Sungi yang berada di Kabupaten Badung sangat produktif, dan di sebelah utara Subak Yeh Sungi terdapat Pura Subak.

“Saat kita melakukan identifikasi, Pura Subak ini juga diterabas oleh trase tol Gilimanuk-Mengwi,” ujarnya.

Prof. Wayan Windia menegaskan, tahun 2014 total luas sawah di Bali 80 ribu Ha dan tiap tahunnya selalu menyusut rata-rata 2.288 Ha dan menurut disertasi Made Geria, subak di Bali tahun 2030 diperkirakan nyungsep atau hilang. Saat ini saja, Bali sudah minus beras 100 ribu per tahun.

“Hitungannya saat ini Bali sudah minus beras,” ungkap Prof. Windia.

(foto: ist.)

Peran subak di Bali sangat signifikan karena bukan hanya untuk mensupply bahan makanan tapi juga untuk meneguhkan kebudayaan di Bali karena disana ada ritual-ritual yang dilakukan. Dampak dari Proyek tol Gilimanuk-Mengwi ini juga membuat sawah dan subak menjadi berkurang. Hal tersebut sangat berdampak hilangnya sumber pangan Bali dan goyahnya kebudayaan Bali.

“Menurut Prof. Sutawan, kalau nanti sawah habis, subak habis, maka kebudayaan Bali goyah,” tegasnya.

Bokis menambahkan, bahwa rencana proyek pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi yang disebutkan pada KA-ANDAL rencana pembangunan Tol Gilimanuk-Mengwi menerabas sawah dengan intensitas sedang hingga tinggi seluas 188, 31 Ha. Namun faktanya berdasarkan hasil survey yang dilakukan tim survey WALHI Bali, ternyata luasnya lahan yang diterabas adalah 480,54 Ha.

Atas temuan yang lebih banyak dari KA-ANDAL tersebut, Bokis meragukan keaslian data yang disajikan dalam KA-ANDAL tersebut.

“Kami mempertanyakan kesahihan data pemrakarasa yang digandeng oleh Pemprov Bali,” ucapnya.

Lebih lanjut Bokis juga menjelaskan, bahwa saat pandemi Covid-19 yang terjadi di Bali saat ini, pertanian merupakan alternatif untuk memberikan kontribusi ekonomi bagi Bali. Tapi yang terjadi justru Pemprov Bali membuat rencana pembangunan proyek Jalan Tol Gilimanuk-Mengwi yang sudah menerabas lahan pertanian produktif, dimana rencana tersebut bertentangan dengan visi misi Wayan Koster Gubernur Bali yang berkaitan dengan kemandirian pangan.

Ia menegaskan, seharusnya Wayan Koster membuat kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada perlindungan lahan pertanian dan petaninya, bukan malah sebaliknya.

“Berdasarkan temuan WALHI Bali, kami mempertanyakan komitmen Wayan Koster untuk mewujudkan kemandirian pangan,” tutup Bokis.

Selain mengadakan diskusi, acara tersebut juga diisi pameran karya Dis-Print Kultur, Propagila Alas Kaki, Bagi Berkan, Roughlines, Dodox Mads, Dxgo, dan Nano Jr. Selain itu, ada juga live mural dari Bagi Berkah, Daffa X Dekwan, Dxgo serta penampilan akustik dari Roots Fantasy dan Minionz Hell sebagai penutup acara. (rls)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *