Rai Mantra: “Nyepi Sebagai Yadnya Tingkatkan Sradha Bakti”

Rai Mantra: “Nyepi Sebagai Yadnya Tingkatkan Sradha Bakti”

Walikota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Walikota Denpasar IGN. Jaya Negara.

Walikota dan Wakil Walikota Ucapkan Hari Raya Nyepi Bagi Umat Hindu

Walikota Denpasar IB. Rai Dharmawijaya Mantra bersama Wakil Walikota Denpasar IGN. Jaya Negara, Senin (4/3), mengajak segenap umat Hindu dan masyarakat Kota Denpasar untuk melaksanakan seluruh rangkaian Hari Suci Nyepi sebagai suatu yadnya suci untuk meningkatkan sradha bhakti dalam melaksanakan Dharma Agama dan Dharma Negara.

Dalam pelaksanaan rangkaian Hari Suci Nyepi ini, Walikota Rai Mantra menghimbau segenap komponen masyarakat untuk memanfaatkan momen ini sebagai kesempatan untuk saling menghormati, mengembangkan rasa toleransi berdasarkan konsep Catur Paramitha dan Tri Hita Karana, hidup berdampingan menghormati keragaman budaya.

“Selamat melaksanakan rangkaian upacara Hari Suci Nyepi serta selamat Tahun Baru Caka 1941 kepada segenap umat Hindu dan masyarakat yang melaksanakannya. Semoga kita selalu dapat melakukan seradha bakti sesuai dengan swadarma kita masing-masing untuk mewujudkan Denpasar kreatif berwawasan budaya dalam keseimbangan menuju keharmonisan,” ujar Rai Mantra dan Jaya Negara.

Pergantian Tahun yakni Tahun Baru Caka bagi umat Hindu ditandai dengan bulan gelap atau Tilem pada Sasih Kesanga. Tahun Baru Caka 1941 Tahun ini jatuh pada tanggal 7 Maret 2019 yang disambut dengan rangkaian upacara Melasti, Tawur, Nyepi dan Ngembak Geni.

Prosesi Melasti atau “Melis” dirangkaikan dengan upacara penyucian pretima ke sumber mata air seperti laut, danau ataupun sungai. Hal ini memiliki makna meningkatkan sradha bhakti kepada Ida Sanghyang Widhi Wasa Tuhan Yang Maha Esa yang merupakan implementasi mengikuti ajaran dharma.

Setelah Melasti umat Hindu melaksanakan upacara Tawur yang juga dikenal sebagai Tawur Kesanga atau Tawur Agung yang bermakna mensucikan Palemahan Keluarga, Banjar, Desa Pekraman, seluruh wilayah. Pada malam harinya merupakan akhir dari Tahun Caka 1940 yang masih dalam agenda Tawur Kesanga yang digelar dengan gelaran budaya pawai ogoh-ogoh. Dan keesokan harinya, merupakan pelaksanaan hari suci Nyepi (sipeng) mengawali Tahun caka 1941 dilaksanakan Catur Brata Penyepian yakni, Amati Geni, Amati Karya, Amati Lelungan dan Amati Lelanguan yang semuanya bermakna hening. Pelaksanaan Catur Berata Penyepian ini diakhiri esok harinya dengan Ngembak Geni yang bermakna penyucian lingkungan sosial melalui Dharma Shanti. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *