Terjadi Pergeseran Bertransaksi dari Manual ke Digital, BI Mengacu Dimensi Prinsip Utama Kebijakan Sistem Pembayaran “CeMuMuAH”

Terjadi Pergeseran Bertransaksi dari Manual ke Digital, BI Mengacu Dimensi Prinsip Utama Kebijakan Sistem Pembayaran “CeMuMuAH”

Sebagai bank sentral, Bank Indonesia terus memantau perkembangan ekonomi baik global, domestik, maupun spasial. Secara spasial, perlambatan ekonomi pada triwulan II 2020 terjadi di seluruh wilayah di Indonesia.

Bali sebagai salah satu lumbung devisa dari sektor pariwisata Indonesia tentunya menjadi daerah yang paling terdampak akibat pembatasan sosial yang berimbas pada penurunan kegiatan pariwisata sejak Februari 2020, dimana pertumbuhan ekonomi mengalami kontraksi sebesar -10,98% (yoy) pada triwulan II 2020.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali, Trisno Nugroho, mengungkapkan ditengah menurunnya kinerja ekonomi, pergeseran interaksi antar manusia yang mengedepankan faktor cleanliness, health, safety, and environmental (CHSE) justru mempercepat integrasi ekonomi keuangan digital berpengaruh pada industri digital di Indonesia secara luas.

Penelitian yang dilakukan Redseer baru-baru ini menunjukkan selama covid-19, penggunaan platform digital di Indonesia semakin meningkat pada bidang perdagangan, edukasi, kesehatan, transportasi dan untuk pembayaran. Penggunaan platform oleh pelaku usaha dan masyarakat pengguna ditengah pandemi membantu ekonomi tetap berputar serta membantu percepatan transformasi ekonomi dan keuangan digital Indonesia.

Pandemi covid-19 telah menciptakan perubahan perilaku masyarakat, seiring dengan pandemi yang menyebabkan pergeseran interaksi antar manusia, seperti mengurangi intensitas pertemuan fisik, tatap muka, termasuk juga meminimalkan kontak fisik dalam bertransaksi pembayaran. Masyarakat kini banyak beralih menggunakan pembayaran digital, yang tercermin dari peningkatan pembayaran menggunakan sarana digital seperti QRIS, uang elektronik, internet banking dan mobile banking.

Trisno mengatakan pada masa pandemi covid-19 dan masa new normal, salah satu bentuk digitalisasi yaitu penggunaan Digital Payment yang bersifat contactless, yang sejalan dengan rekomendasi WHO, telah menjadi kebutuhan dan suatu keniscayaan.

“Bank Indonesia sebagai otoritas sistem pembayaran merespon perkembangan yang terjadi. Bank Indonesia berupaya untuk menjadikan sistem pembayaran yang efisien dan efektif dengan mengacu pada dimensi prinsip utama kebijakan sistem pembayaran yang CeMuMuAH yaitu cepat, mudah, murah, aman dan handal,” jelas Trisno disela acara peluncuran Implementasi Digitalisasi Pembayaran yang Sehat di Masa Covid-19 New Normal di Makorem 163/Wirastya, Rabu (14/10/2020).

Trisno menerangkan berbagai kebijakan telah digulirkan Bank Indonesia antara lain:

1. Mendorong masyarakat untuk mengoptimalkan penggunaan alat pembayaran non tunai dalam bertansaksi melalui media nirsentuh sepert internet banking, mobile banking, uang elektronik server based, dan pemanfaatan kanal QRIS;

2. Memperpanjang masa berlaku MDR QRIS menjadi 0% khusus untuk merchant dg kategori Usaha Mikro (UMI) oleh PJSP yang awalnya hanya sampai dengan September menjadi hingga akhir Desember 2020; dan

3. Memastikan higienitas dan ketersediaan uang Rupiah dalam hal ini melakukan karantina terhadap uang layak edar.

Kebijakan Bank Indonesia mendorong implementasi QRIS dapat menjadi salah satu solusi untuk bertransaksi cara bayar aman dan sehat ditengah pandemi covid-19. QRIS sebagai cara bayar nirsentuh dengan melakukan scan, merupakan produk inovasi Bank Indonesia dengan industri pembayaran nasional, telah digulirkan sejak 17 Agustus 2019.

“Akselerasi implementasi QRIS juga sangat cepat sejalan dengan inovasi model-model bisnis yang bergeser mengikuti prinsip protokol kesehatan dan memenuhi aspek bersih, sehat dan aman,” kata Trisno.

Transaksi menggunakan QRIS meningkat selama masa pandemi. Secara nasional transaksi QRIS bulanan tumbuh lebih dari 35%, mencapai 2,9 juta transaksi sebulan. Adapun untuk wilayah Bali hingga 9 Oktober 2020, total merchant QRIS tercatat sebanyak 139.538 merchant atau meningkat hingga 447% sejak awal tahun 2020, dengan dominasi pada Usaha Kecil dan Mikro (kurang lebih 57%) yang selama ini sangat terbatas aksesnya untuk menggunakan pembayaran non tunai.

Penyelenggaranya pun sudah mencapai 40 penyelenggara baik bank maupun non bank sehingga lebih 4,5 juta masyarakat Bali siap melakukan pembayaran dengan menggunakan QRIS.

“Kami turut berbangga atas upaya Korem Wirastya Bali menjadi korem pertama di Indonesia yang mengimplementasikan digitalisasi pembayaran dalam kehidupan sehari-hari. Kami mengapresiasi setinggi-tingginya inisiatif Korem Wirastya Bali yang telah mendorong penggunaan QRIS di lingkungan Korem Wirastya Bali, yang saat ini telah digunakan pada koperasi, pedagang di kantin, dan tempat ibadah. Kita juga berbahagia para prajurit di lingkungan Korem Wirastya Bali telah siap menggunakan pembayaran digital melalui penggunaan mobile banking dan uang elektronik,” tutup Trisno. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *