Trend Kenaikan Ekspor Signifikan, Barantan Kembali Ekspor 16 Komoditas Pertanian

Trend Kenaikan Ekspor Signifikan, Barantan Kembali Ekspor 16 Komoditas Pertanian

Foto: Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil (paling kiri), bersama anggota Komisi IV DPR RI Fraksi Golkar dapil Bali A.A. Bagus Adhi Mahendra Putra (kemeja hitam), sesaat akan memecahkan kendi sebagai tanda pelepasan ekspor komoditas pertanian Bali dengan tujuan negara Cina.

Setelah sukses mengeksor komoditas pertanian unggulan senilai Rp.17,4 miliar, di Pelabuhan Benoa, Denpasar, pada bulan Maret lalu, Kementerian Pertanian melalui Badan Karantina Pertanian (Barantan) kembali mengekspor komoditi pertanian berupa 7 ton manggis senilai 410 juta rupiah dengan negara tujuan Cina. Tak hanya manggis, ada 16 jenis komoditas pertanian yang juga diekspor. Barantan mencatat tren kenaikan ekspor yang signifikan dari komoditas ekspor pertanian, khususnya Manggis asal Provinsi Bali.

“Menjadi bukti hasil kerja keras petani hortikultura serta kolaborasi pusat dan daerah dalam membangun pertanian yang baik, sehingga kita bisa terus meningkatkan ekspor,” kata Kepala Barantan, Ali Jamil saat melepas ekspor 16 jenis komoditas pertanian sekaligus di Denpasar, Senin (29/4).

Dari data yang tercatat di sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST Karantina Denpasar, di tahun 2018 manggis yang diekspor sebanyak 4.094,6 ton senilai Rp. 239,8 miliar dengan negara tujuan Cina, Hongkong dan Timor Leste.

“Sementara untuk kurun waktu Januari hingga April 2019 berhasil membukukan volume ekspor sebanyak 1.263,1 ton dengan nilai 73,9 miliar rupiah, angkanya menunjukkan tren yang meningkat,” kata Jamil.

Komoditas asal tumbuhan dan turunannya yang dilepas pada saat yang sama adalah alang-alang dengan volume sebanyak 60 M3 senilai 113,9 miliar rupiah. Komoditas yang diminati negara mitra dagang di Australia, Maldives dan Italia ini juga menunjukkan tren kenaikan. Tercatat 1.077 M3 dengan nolai Rp. 1,7 miliar di bulan Januari hingga April 2019, sementara tahun 2018 dibukukan total ekspor sebanyak 11.742 M3 dengan nilai Rp. 22,3 miliar.

“Emerging product, unik dan pelaku usaha agribisnis di Bali mampu memasarkannya. Dan Kementan melalui Barantan siap memfasilitasi khususnya dari pemenuhan persyaratan Sanitary and Phytosanitary, SPS nya,” ungkapnya.

Sementara untuk komoditas asal hewan, juga tidak kalah menariknya yakni kepompong kupu-kupu yang di ekspor ke Singapore. Hewan dengan masa hidup yang tidak lebih dari 4 minggu dan sangat bermanfaat bagi ekosistem ini juga menunjukan tren peningkatan yang signifikan. Di tahun 2018 hanya sejumlah 40 koloni, menjadi 170 koloni selama bulan Januari hingga April 2019 dengan nilai Rp. 83,5 juta.

“Indonesia miliki potensi ragam yang luar biasa dan Bali memberikan kita inspirasi,” tegasnya.

Sementara itu ditempat yang sama, Kepala Karantina Pertanian Denpasar, I Putu Terunanegara menambahkan data ekspor komoditas wajib periksa karantina yang dilepas ekspor lainnya yakni handicraft dengan 9 jenis kayu yang berbeda yakni jati, trembesi, sengon, rotan, eceng gondok, bambu, kelapa, mahoni dan suar, berjumlah total 60 M3 senilai Rp. 113,9 miliar. Putu juga menambahkan data ekspor untuk produk yang sama di tahun 2018 sebanyak 11.742 M3 dengan nilai Rp. 22,3 mikiar dan di periode Januari hingga April tahun 2019 tercatat 1.077 M3 senilai Rp. 1,7 miliar. Dan untuk komoditas asal hewan yang juga diekspor selain kepompong kupu-kupu adalah sarang burung walet (SBW), kulit ular, reptil, DOC dan burung dengan total nilai ekspor mencapai Rp. 2,06 miliar rupiah.

Anggota Komisi IV DPR RI dari Fraksi Golkar dapil Bali A.A. Bagus Adhi Mahendra Putra yang hadir dan turut melepas ekspor, menyatakan sangat mengapresiasi upaya fasilitasi perdagangan terhadap komoditas pertanian yang dilakukan Barantan. Ia juga berharap kedepan hal ini terus ditingkatkan dengan terobosan dan inovasi lainnya guna memperluas akses pasar dan juga ragam komoditas.

Sejalan dengan harapan tersebut, Jamil juga menambahkan, pihaknya mensosialissasikan aplikasi yang telah dibangun oleh Kementan melalui Barantan yaitu Indonesian Map of Agricultural Commodities Exports (I-MACE). Aplikasi ini telah diluncurkan Menteri Pertanian diawal tahun 2019 dan terus disosialisasikan kepada pemimpin daerah di seluruh Indonesia. Tujuan aplikasi tersebut adalah memudahkan pemerintah daerah dalam memantau potensi pertanian yang ada di daerahnya agar dapat dikembangkan lebih baik. Aplikasi berisi data potensi pertanian, update secara real time termasuk keterangan asal daerah dan tujuan negara ekspornya.

“Kita dorong bersama ekspor komoditas pertanian guna menyongsong cita-cita bersama Indonesia sebagai lumbung pangan dunia 2045,” pungkasnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *