Dwi Yustiawati: Klungkung Punya Potensi Atlet Berbakat, Pola Pembinaan Harus Lebih Pro Aktif

Dwi Yustiawati: Klungkung Punya Potensi Atlet Berbakat, Pola Pembinaan Harus Lebih Pro Aktif

Tokoh perempuan Klungkung Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, yang juga caleg DPRD Bali dapil Klungkung dari PDI Perjuangan nomor urut 3.

Tokoh masyarakat Klungkung yang juga caleg DPRD Bali dapil Klungkung nomor urut 3 dari PDI Perjuangan Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati S.E., mendukung penuh upaya Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Klungkung untuk mencetak lebih banyak atlet berprestasi dari Klungkung. Wacana kabupaten dengan julukan “Bumi Serombotan”, itu kini tengah serius mempersiapkan atlet sejak usia dini dengan menerapkan sistem crossing. Dimana siswa siswa berbakat dan potensial akan dikumpulkan dari berbagai sekolah untuk kemudian ditempa sesuai potensinya masing-masing.

“Kami ingin Klungkung jadi rumah dan gudangnya atlet berprestasi di Bali baik di tingkat nasional bahkan internasional. Potensi untuk itu cukup besar,” kata Dwi Yustiawati, di Klungkung, Kamis (21/3).

Untuk membina atlet-atlet olahraga secara berkelanjutan, konsisten, dan kontinyu, pemerintah bersama induk organisasi olahraga KONI harus duduk bersama untuk menyiapkan skema yang tepat. Dwi Yustiawati mengatakan, selain pembinaan yang kontinyu, infrastruktur juga harus mulai dipikirkan mengingat sarana dan prasarana juga menjadi salah satu unsur penting bagi seorang atlet.

“Perlu disiapkan anggaran yang memadai untuk membangun ataupun membenahi infrastrtuktur yang sudah ada sehingga sarana dan prasarana olahraga di Klungkung bisa memberi manfaat bagi pembinaan olahraga,” jelas srikandi dari Desa Sental Nusa Penida ini.

Dwi Yustiawati juga menyatakan, Kabupaten Klungkung sejatinya punya potensi atlet berbakat. Sebut saja di cabang olahraga renang dimana dua atlet renang Klungkung mampu mengukir prestasi gemilang pada ajang Kejurnas Renang Indonesia Open Aquatic Championship (IOAC) di Kolam Renang Aquatic Gelora Bung Karno, Jakarta, Desember tahun lalu. Kedua atlet itu adalah Lisa Primasari dan Luh Made Budiartini Bandem. Namun demikian, Dwi Yustiawati sejauh ini belum ada sistem pembinaan sejak dini dan berkelanjutan.

“Saya amati pola latihan atlet masih belum terintegrasi dan sangat sektoral. Pemerintah juga terkesan belum paham sepenuhnya seperti apa seharusnya seorang bibit atlet berprestasi bisa dilahirkan,” kata tokoh muda cerdas dan berjiwa sosial tinggi itu.

Untuk itu, Dwi Yustiawati berharap program pembinaan atlet harus lebih proaktif lagi serta didukung oleh anggaran yang cukup untuk memperkuat sarana dan prasarana penunjangnya. Sehingga lebih banyak atlet yang terlahir melalui pembinaan yang berjenjang dan berkelanjutan baik di sekolah maupun perguruan tinggi.

“Mencetak atlet berprestasi itu tidak instan. Tidak juga ada atlet yang lahir dengan bakat alami tapi ditempa dengan latihan keras dan disiplin dengan metode yang tepat,” ujar Dwi Yustiawati yang bersama suaminya Ketut Leo dikenal sebagai sosok yang dermawan dan sejak lama membantu pembangunan banyak pura khususnya di kawasan Nusa Penida. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *