Dwi Yustiawati: Lestarikan Industri Kreatif Tenun Cepuk Rangrang

Dwi Yustiawati: Lestarikan Industri Kreatif Tenun Cepuk Rangrang

Srikandi Nusa Penida, Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, yang juga caleg DPRD Bali dari PDI Perjuangan dapil Klungkung nomor urut 3.

Siapa yang tak mengenal kain tenun Cepuk Rangrang asli Nusa Penida. Industri kreatif rumahan warisan leluhur ini awalnya hanya untuk kebutuhan upacara keagamaan saja. Namun seiring perkembangan jaman, tenun Cepuk Rangrang kini bebas diproduksi oleh masyarakat dan menjadi pelengkap aktivitas adat maupun juga souvenir.

Tenun Cepuk Rangrang berasal dari kata Cepuk dan Rangrang atau disebut Cepuk bolong-bolong. Tenun Cepuk Rangrang punya ciri pada lembaran kain tenunnya yang terdapat ruang-ruang kecil berlubang, sedangkan motifnya juga khas sehingga berbeda dengan tenun hasil karya masyarakat di kabupaten lain di Bali. Soal warna, tenun ini punya warna lebih cerah yang mendominasi seperti hijau, kuning, merah, orange dan warna ungu, dimana pewarnaannya menggunakan bahan alami dari daun, buah maupun akar-akaran tertentu. Inilah yang kemudian membuat tenun Cepuk Rangrang Nusa Penida dibandrol dengan harga yang cukup tinggi hingga jutaan rupiah. Namun dalam perjalanan waktu, pewarnaan tenun ini kini memakai bahan kimia.

“Kalau asli tenun Cepuk Rangrang harganya dikisaran Rp 1 sampai 1,5 juta, bahkan lebih,” ujar tokoh perempuan Klungkung asal Desa Sental Nusa Penida, Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati, saat dikontak, Senin (25/2).

Ni Luh Kadek Dwi Yustiawati.

Untuk menjaga kelestarian dan keaslian tenun warisan leluhur ini, Dwi Yustiawati berharap ada pendampingan pemerintah daerah baik kabupaten dan provinsi. Sinergi dengan pihak ketiga juga sangat diperlukan untuk menjaga kelangsungan industri kreatif rumahan warga Nusa Penida ini. Pendampingan ini menurutnya sangat penting dilakukan ditengah gempuran produk sejenis yang kini banyak diproduksi masyarakat diluar Nusa Penida yang pewarnaannya cenderung menggunakan bahan kimia. Padahal kita tahu, tenun Cepuk Rangrang yang asli itu pewarnaannya menggunakan warna alami.

“Miris sebenarnya kita kalau melihat kondisi yang ada. Padahal melalui kegiatan tenun di Nusa Penida bisa membangkitkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal. Ini yang sebetulnya mesti dilestarikan, bukan hanya berorientasi materi semata,” ujar Dwi Yustiawati yang juga caleg DPRD Bali dari PDI Perjuangan dapil Klungkung nomor urut 3.

Pendampingan yang bisa dilakukan pemerintah selain memberikan suntikan akses permodalan, ketersediaan bahan baku dan akses pasar, juga bisa melalui kegiatan pameran. “Ini menjadi penting lantaran keberadaan tenun Cepuk Rangrang sudah menjadi ikon Klungkung dan juga jadi daya tarik pariwisata Nusa Penida,” tutupnya. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *