Dongkrak Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan Ditengah Pandemi Covid-19, Gus Adhi “Amatra” Ajak Anak Muda Beternak Lele

Dongkrak Kebangkitan Ekonomi Kerakyatan Ditengah Pandemi Covid-19, Gus Adhi “Amatra” Ajak Anak Muda Beternak Lele

Penebaran benih ikan lele pada sistem bioflok Pokdakan Yowana Werdi Sentana, Desa Pandak Gede, Tabanan. (foto: ist.)

Tabanan (Penabali.com) – Wakil rakyat di pusat dari Dapil Bali satu ini memang tak pernah sepi aktifitas dan kegiatan turun ke masyarakat. Tak hanya di masa reses, setiap kali pulang ke Bali usai menunaikan tugasnya sebagai legislator di Jakarta, politisi “merakyat” dengan slogan AMP (Amanah, Merakyat, Peduli) ini selalu diisi menyapa konstituen dan masyarakat.

Dia adalah Anak Agung Bagus Adhi Mahendra Putra (Amatra), Anggota Komisi II DPR RI dari Fraksi Partai Golkar. Saat “pulang kampung” ke Bali kali ini, politisi yang populer dipanggil Gus Adhi itu melakukan roadshow ke 4 kabupaten/kota, salah satunya Kabupaten Tabanan.

Pada Selasa (21/09/2021), Gus Adhi bertandang ke Desa Pandak Gede, Kecamatan Kediri, Tabanan, untuk menemui para anak muda yang tergabung ke dalam Kelompok Budidaya Perikanan (Pokdakan) Yowana Werdi Sentana.

Kehadiran Ketua Harian Depinas SOKSI di Desa Pandak Gede adalah untuk menebar benih lele di bioflok Pokdakan Yowana Werdi Sentana sekaligus melakukan tatap muka dengan anggota pokdakan. Tujuannya, untuk menggerakkan ekonomi kerakyatan ditengah pandemi Covid-19 melalui penyerahan bioflok.

“Pandemi telah meluluhlantakkan ekonomi kita tapi sektor perikanan dan pertanian mampu bertahan karena merupakan kebutuhan pokok masyarakat,” tutur Gus Adhi didampingi Perbekel Desa Pandak Gede, Kadis Perikanan Tabanan, Plt. Kepala Balai Produksi Induk Udang Unggul dan Kekerangan Karangasem I Gusti Putu Agung, dan tokoh masyarakat.

Dalam kegiatan yang tetap mematuhi protokol kesehatan itu, Gus Adhi memotivasi dan menyemangati generasi muda khususnya di Desa Pandak Gede agar mengelola dengan baik bantuan bioflok ini.

“Yang kita pelihara ini adalah makhluk hidup, ikan lele, perhatikan airnya, pakannya, agar menghasilkan ikan lele yang sehat dan bernilai ekonomi tinggi,” pesannya.

Di areal hampir 2 are, terdapat 8 bioflok budidaya lele di pokdakan ini. Saat akan menebar benih lele, dengan lugas Gus Adhi mengedukasi cara menebar benih ikan.

“Benih yang terbungkus dalam plastik jangan langsung ditebar, kenapa, karena akan buat ikan stres, kaget. Makanya harus pelan-pelan agar lelenya beradaptasi dengan air yang ada di dalam kolam, cara ini akan mencegah benih stres bahkan mati,” jelasnya.

Dihadapan anggota Pokdakan Yowana Werdi Sentana, legislator asal Kerobokan, Badung itu menerangkan analisa usaha budidaya lele sistem bioflok ini menggunakan terpal bulat berdiameter 3 meter dan tinggi 0,8 meter. Kolam terpal sebesar ini, mampu menampung benih ikan lele sekitar 3.000 ekor.

Modal awal dalam kegiatan usaha budidaya ini mencakup biaya pembuatan kolam terpal, dan biaya produksi untuk satu kali siklus usaha dengan masa panen 3 bulan.

Gus Adhi lantas merincinya. Pembuatan kolam terpal berdiameter 3 meter: Rp.3.000.000 x 8 bioflok = 24.000.000 ekor. Biaya produksi satu kali siklus usaha terdiri dari:

•  Pembelian 3.000 bibit ikan lele (harga Rp.400 per ekor): Rp.1.200.000

•  Pakan ikan lele untuk 3 bulan sebanyak 225 kg per 10.000/kg): Rp.2.250.000

•  Obat-obatan dan vitamin ikan lele: Rp.500.000,-.

“Jadi, jumlah biaya produksi untuk satu kali siklus usaha ialah sebesar Rp.3.950.000 per flok. Jika biaya pembuatan kolam dan biaya produksi dijumlahkan, maka total modal usaha ternak lele 24.000 ekor pada kolam terpal ialah sebesar Rp.166.640.000,” terangnya.

Perkiraan Harga Jual Panen

Berdasarkan hasil pengamatannya, dari analisis bisnis per kolam dengan jumlah tebaran 3.000 ekor lele dengan pakan sebanyak 225 kg, dapat menghasilkan panen sekitar 600 kg.

Jika melihat rata-rata harga jual ikan lele di tahun sebelumnya, yaitu Rp.15.000 per kilogram. Maka, perkiraan harga jual panen ikan lele yang bisa diperoleh ialah: 600 kg x Rp.15.000 = Rp 9.000.000,-.

Keuntungan Ternak Lele per 3.000 Ekor (per flok).

Untuk menghitung keuntungan pada analisa usaha budidaya lele sistem bioflok ini, maka bisa digunakan rumus: Harga jual panen dikurangi biaya produksi.

“Maka, bisa kita hitung keuntungannya per 3.000 ekor sebagai berikut: Rp.9.000.000 dikurani Rp.3.950.000 = Rp.5.050.000. Jadi, bisa kita perkirakan untuk keuntungan ternak lele 24.000 ekor pada 8 kolam terpal yaitu sebesar Rp.5.050.000 x 8 = 40.400.000 untuk satu kali siklus panen,” paparnya. (rls)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *