Bendungan Danu Kerthi Masih Sisakan Sejumlah Masalah

Singaraja ( Penabali.com ) – Pasca diresmikan Presiden Joko Widodo pada 2 Februari 2023 lalu, pembangunan Bendungan Danu Kerti yang berlokasi di empat desa perbatasan wilayah Kecamatan Sawan dan Kubutambahan, Kabupaten Buleleng masih menyisakan sejumlah masalah dan keluhan sejumlah warga.

Keberadaan bendungan yang menghabiskan anggaran sebanyak Rp. 820 Miliar itu pun dirasa kurang memberikan dampak positif bagi pengairan maupun pariwisata bagi sejumlah desa penyangga. Padahal pembangunan bendungan yang menjadi salah satu Proyek Strategis Nasional ( PSN ) ini di gadang – gadang mampu mengairi lahan persawahan sebanyak 588 hektar.

Sejumlah keluhan itu disampaikan langsung oleh salah tokoh asal Desa Tamblang, Wayan Masdana. Pria yang akrab disapa Anok ini pun menjelaskan sejumlah masalah yang kini masih dialami oleh warga sekitar bendungan. Menurutnya, fungsi dari sistem pengairan yang dibangun saat ini, masih belum bisa mencakup lahan persawahan yang berada di sekitar kawasan bendungan. Ditambah lagi sejumlah akses jalan menuju bendungan yang masih dirasa kurang memadai. “ Akses jalan dari Desa Bila Kawanan masih kurang memadai. Padahal itu merupakan salah satu akses utama menuju bendungan. Kalau akses jalan saja kurang baik, gimana mau memberikan dampak ke masyarakat,”terangnya saat dikonfirmasi via telepon pada Senin ( 15/1) kemarin.

Selain keluhan itu, Anok juga menyoroti pembongkaran keberadaan Pura Taman di Desa Bila. Pasalnya, Pura yang terletak di pinggir sungai ini, kini belum mendapat ganti rugi dari Balai Wilayah Sungai ( BWS) Bali – Penida. Pihaknya masih menagih komitmen BWS terkait pemindahan dan pemugaran Pura Taman di Desa Bila. “ Ada juga di Desa bengkala, salah satu sumber air baku disana tenggelam akibat pembangunan. Sampai saat ini belum ada kejelasan kontribusi oleh Pelaksana Bendungan,”Pungkasnya.

Anok pun menginginkan agar rembesan yang terjadi pada tubuh bendungan segera mendapat penanganan. Pihaknya pun berharap BWS Bali – Penida agar segera melakukan evaluasi terhadap sejumlah keluhan warga yang disampaikan. “ Itu beberapa keluhan dari warga ke kami. Kita berharap segera mendapat perhatian dari pihak terkait,”tutupnya.

Sementara itu, Kasatker Bendungan Danu Kerti, Komang Putra tidak menampik isu rembesan itu.  Meski begitu, pihaknya menegaskan rembesan di sandaran bendungan tidak berdampak signifikan pada tubuh bendungan. Munculnya rembesan itu dikarenakan ditemukannya terowongan kuno di awal pengerjaan galian. “Memang terjadi rembesan dengan adanya situs kuno. Namun tidak berpengaruh dengan  kekuatan bendungan. Sudah diinspeksi oleh komisi keamanan bendungan KKB dengan dengan grouting dan diafragma wall,”katanya.

Sementara itu, disinggung terkait terkait dampak ke areal persawahan dan perkebunan di sekitar Desa Penyangga, Pihaknya memastikan masyarakat sudah merasakan dampaknya. Saat ini tampungan sebesar 1,2 meter kubik mampu merilis air melalui maintenance flow sebesar 0,5 hingga 1 meter kubik per detik secara continue ke sungai untuk kebutuhan di hilir bendungan,” Saat ini Muka Air Waduk (MAW) berada di elevasi 161,024 dengan jumlah tampungan 1,2 juta kubik. Ini sudah kita suplai kontinu ke masyarakat,”tandasnya. ( ika )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *