Togar Situmorang di Mata Wartawan Hiburan: “Panglima Hukum yang humble, sederhana, cerdas, dan menyenangkan”

Togar Situmorang di Mata Wartawan Hiburan: “Panglima Hukum yang humble, sederhana, cerdas, dan menyenangkan”

Togar Situmorang ngobrol santai bareng wartawan-wartawan hiburan. (Foto: ist.)

Penabali.com – Di sini tidak ada pinacollada, margarita, tequila, wine, beer, atau vodka. Juga, percampuran belasan jenis minuman seperti yang kerap ditemui di tempat-tempat clubbing/hang-out, semacam long island dan cendana. Tak juga beragam miras lokal legendaris, seperti cati–cap tikus.

Ada memang beragam kopi. Tetapi, hanya sekadar merk. Bukan rasa. Sebab, semua serba instan, berupa kopi cepat saji atau kopi bubuk. Bukan kopi racikan, sebagaimana yang menjadi menu khusus dan andalan dari kedai-kedai kopi kiwari, identitas lain dari milenial atau kekinian.

Jika menginginkan bisa menikmati rasa kopi yang seperti menyihir perasaanmu, pastilah tak kau temukan di sini. Juga, seandainya kau mengangankan taste kopi yang menumbuhkan sensasi khusus, jangan berharap akan memperolehnya pula.

Tetapi mungkin memang bukan itu pula yang membuat sejumlah selebritas kini merelakan menghabiskan waktunya berjam-jam di sini. Tak sekadar memenuhi janji pertemuan. Namun, ya, mungkin untuk mendapatkan ‘rasa’ yang lain. Sentuhan yang berbeda. Sentuhan dari lubuk hati terdalam. Semua kembali ke hati.

“Senang di sini,” kata Togar Situmorang, S.H., M.H., MAP., C.Med., CLA. Pengacara kondang ini menjadi tamu dari teman-teman wartawan hiburan yang semakin terbiasa berhimpun di sini. Persisnya, bagaimana Bang Togar dibawa kemari oleh mereka. Lalu, membuat podcast untuk diunduh di youtube.

“Podcast tentang apa?” Saya tergelitik untuk bertanya. “Tentang akulah, Bang,” jawab Togar seraya tertawa.

Oh, okaay. Jelaslah, teman-teman itu tak sekadar ngobrol ngalor-ngidul saat berjam-jam berhimpun di sini. Mereka menerawangkan benaknya ke mana-mana. Mencoba mempersatukan kehendak, menyamakan kemauan. Apa yang bisa bersama-sama dilakukan? Apa yang bisa menghasilkan di masa sekarang? Kemitraan atau kolaborasi apa, bagaimana, dan dengan siapa bisa dilakukan, dengan konsep win-win solution? Menjadi content-creative, sesuatu yang sangat menantang ditengah kecamuk digitalisasi dewasa ini. Teman-teman tampaknya semakin menyadari hal itu.

Tentang Bang Togar, ternyata figur yang sangat menyenangkan. Kami berteman di fesbuk, tetapi baru kali ini berkesempatan bertatap muka. Sebagai bagian dari pengacara papan atas, sosok dan penampilannya humble, sederhana. Namun, sebagaimana lawyer berpengalaman lainnya, ia sergap untuk menguasai medan. Dan cepat merangsang empati.

“Abang-abang, kebetulan aku punya rumah di Bali. Marahlah aku kalau abang tak memberi info kalau ke Bali. Tinggalah di tempat aku,” terangnya. Kami tersenyum. “Siiaap, bang, terima kasih,” jawab sebagian dari kami.

Punya beberapa kantor, di Jakarta dan Bali, Bang Togar yang 18 Agustus nanti genap 55 tahun bergerak di bidang hukum bisnis, hukum acara, dan legal corporate. Oleh teman-temannya ia dijuluki sebagai “Panglima Hukum” dan pengacara selebritas Indonesia. Frasa terakhir ini bisa merujuk pada dua hal: ia, pengacara dari para selebritas, dan ia pun juga adalah selebritas, seperti lazimnya para lawyer ternama itu.

Jadi, sesekali datanglah ke mari. Tanpa sekat. Bisa tertawa keras, lepas dan puas. (rls)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *