Kasus Covid Layaknya Puncak Gunung Es, AHY: “Perlu upaya konseptual, sistematis, dan nyata pulihkan ekonomi Indonesia”

Kasus Covid Layaknya Puncak Gunung Es, AHY: “Perlu upaya konseptual, sistematis, dan nyata pulihkan ekonomi Indonesia”

Berdasarkan data WHO, jumlah kasus covid-19 di seluruh dunia mencapai lebih dari 31 juta dengan angka kematian mendekati satu juta jiwa. Sementara di Indonesia, berdasarkan data Kementerian Kesehatan, terdapat lebih dari 250 ribu kasus; dengan angka kematian mendekati 10 ribu jiwa. Angka ini masih terus bertambah, sedangkan vaksin yang teruji belum juga ditemukan.

Ketua Umum Patai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan untuk menghadapi krisis, dan ujian sejarah ini perlu solusi, kerja keras, dan langkah nyata. Selain itu juga perlu upaya lanjutan dan langkah efektif untuk mengatasi pandemi covid-19, agar bisa segera menghentikan sebarannya sehingga lebih banyak jiwa manusia yang bisa selamat.

“Harus kita akui, bahwa Indonesia masih memiliki permasalahan tentang validitas dan transparansi data kasus akibat covid-19. Ini bisa saja layaknya puncak gunung es, just the tip of the iceberg. Hal ini tercermin dari jumlah kasus positif yang ditemukan, per jumlah tes di Indonesia yang masih 14%,” sebut AHY.

Ia menambahkan, angka tersebut masih jauh diatas standar WHO sebesar 5%. Juga tingkat kemampuan tes di Indonesia masih rendah dan tidak merata. AHY menyatakan, agar pemerintah makin berhasil, diperlukan kebijakan dan tindakan “testing” secara lebih masif.

Kebijakan “testing” lengkap itu, meliputi testing, tracing, treating, isolating, and containing. Kebijakan testing secara masif ini, sangat mungkin meningkatkan kasus positif covid-19, di masyarakat.

“Namun kita semua tidak perlu panik. Hasil testing yang menyeluruh ini menjadi jalan menuju kesuksesan, didalam mengatasi krisis covid-19, sebagaimana pengalaman negara lain yang dinilai sukses dalam memerangi pandemi.

Dampak langsung dari krisis kesehatan ini telah membuat ekonomi Indonesia terpukul. Terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi sekitar 8 persen, dari yang semula 2,97 persen di kuartal I, menjadi minus 5,32 persen di kuartal II.

Sementara, pada kuartal III ini, kemungkinan besar pertumbuhan ekonomi masih negatif. Ini berarti, ekonomi Indonesia berada di tepi jurang resesi. Hampir semua sektor utama yang berkontribusi besar terhadap Produk Domestik Bruto mengalami kontraksi seperti sektor industri, perdagangan, konstruksi, pertambangan, dan sektor lainnya.

AHY mengungkapkan, ini semua berdampak langsung pada meningkatnya angka pengangguran. Diprediksi, terjadi gelombang pengangguran baru sebesar 5 juta jiwa, menambah angka pengangguran hingga 12,7 juta jiwa. Situasi ini juga akan berimplikasi pada meningkatnya angka kemiskinan, dan juga ketimpangan sosial ditengah masyarakat.

“Saya ingin mengingatkan, sebuah fakta sejarah 12 tahun lalu. Meski ada perbedaan, dari segi penyebab krisisnya dimana krisis tahun 2008, terjadi akibat financial crash di Amerika Serikat. Sedangkan, krisis saat ini disebabkan oleh covid-19 di Tiongkok, tetapi keduanya memiliki dampak yang sama yakni terjadinya krisis ekonomi global,” ungkapnya.

“Alhamdulillah, saat itu krisis ekonomi global tersebut tidak sampai melumpuhkan ekonomi Indonesia, dan menyengsarakan kehidupan rakyat kita,” sambungnya.

Dibawah kepemimpinan Presiden SBY, dan Partai Demokrat sebagai the ruling party, kita bersama-sama bisa keluar dari krisis itu. Ia meyakini, keluarnya Indonesia dari krisis ekonomi global pada tahun 2008 adalah bersatu seluruh elemen dan komponen masyarakat untuk mengatasi krisis itu secara bersama-sama.

“Ada kesatuan komando dan kerja sama yang baik mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, para ekonom, para pelaku dunia usaha baik besar maupun kalangan UMKM serta dukungan seluruh masyarakat. Melalui Keep Buying Strategy; kita bisa menahan, jatuh bebasnya “demand”, sehingga bisnis tetap bisa bergerak,” sebut putra sulung SBY kelahiran Bandung Jawa Barat, 10 Agustus 1978 ini.

AHY meyakini, bahwa sekarang pun kita bisa melakukan hal yang sama. Untuk itu, guna mengatasi tekanan ekonomi akibat pandemi ini, diperlukan upaya yang konseptual, sistematis, dan nyata, untuk memulihkan perekonomian Indonesia.

Kelumpuhan ekonomi yang dirasakan saat ini harus segera dihidupkan kembali agar ancaman resesi yang dalam dan berkepanjangan, dapat dicegah. Pertumbuhan dapat ditingkatkan lagi, lapangan pekerjaan dapat diciptakan lebih banyak, kemiskinan dapat dicegah untuk tidak makin memburuk, serta dunia usaha termasuk UMKM, dapat digerakkan kembali.

“Kami optimis, jika kita bersatu dan bekerja bersama dalam menghadapi pandemi ini, maka dua-duanya bisa kita selamatkan baik manusianya maupun ekonominya. Jangan ada yang dikorbankan. Jangan sampai krisis ini menyengsarakan rakyat kita, lebih dalam lagi. Untuk itu, saya mengajak seluruh kader Demokrat, bersama semua elemen bangsa dan masyarakat luas, untuk ikut menyukseskan berbagai upaya yang telah dilakukan oleh negara dan pemerintah hingga saat ini,” terangnya. (red)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *