Singaraja ( Penabali.com) – Pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ke-8 Tahun 2026 di Kabupaten Buleleng akan berlangsung semarak. Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng menyiapkan enam kategori lomba yang melibatkan peserta lintas jenjang pendidikan hingga prajuru adat. Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada Kamis (12/2) di lingkungan Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng.
Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng, Nyoman Wisandika, ditemui Jumat (30/1), mengatakan Bulan Bahasa Bali menjadi momentum penting dalam memperkuat pelestarian bahasa, aksara, dan sastra Bali, khususnya di kalangan generasi muda.
“Untuk Bulan Bahasa Bali ke-8 Tahun 2026 di Kabupaten Buleleng, kami akan melaksanakan enam kategori lomba. Pesertanya berasal dari perwakilan masing-masing kecamatan, mulai dari siswa SD, SMP, SMA/SMK hingga prajuru adat,” ujarnya.
Enam kategori lomba tersebut meliputi Lomba Nyurat Aksara Bali, Lomba Nyurat Lontar, Lomba Debat Mebasa Bali, Lomba Ngwacen Lontar, Lomba Masatua Krama Istri (Pakis), serta Lomba Pidarta Mabasa Bali yang diikuti oleh prajuru adat.
Seluruh rangkaian lomba akan dilaksanakan di sejumlah lokasi yang telah disiapkan panitia, di antaranya Pelataran Padmasane, Sakenem Dinas Kebudayaan, Ruang Baca UPTD untuk lomba nyurat aksara Bali, serta Wantilan Sasana Budaya untuk lomba pidarta prajuru adat.
Wisandika menjelaskan, secara umum pelaksanaan lomba tahun ini tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya. Namun terdapat penyesuaian jenis lomba agar selaras dengan kebijakan di tingkat provinsi. “Kami mengikuti ketentuan yang berlaku di provinsi, sehingga ada beberapa penyesuaian dari jenis lomba sebelumnya,” jelasnya.
Bulan Bahasa Bali Tahun 2026 mengusung tema “Atma Kerthi–Udiana Purnaning Jiwa”, yang dimaknai sebagai Bulan Bahasa Bali sebagai altar pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali, sekaligus taman untuk membangun kesempurnaan jiwa.
Selain memperebutkan prestasi, panitia juga menyiapkan total hadiah senilai Rp40 juta bagi para peserta dari seluruh kategori lomba.
Melalui kegiatan ini, pihaknya berharap nilai-nilai luhur adat, tradisi, dan budaya Bali dapat terus ditanamkan sejak dini. “Generasi muda dari tingkat SD hingga SMA/SMK, termasuk prajuru adat, diharapkan terus berperan aktif dalam melestarikan bahasa dan budaya Bali. Kegiatan ini juga menjadi sarana menumbuhkan sportivitas serta memperkuat jati diri budaya,” pungkas Wisandika. (ika)

