Categories Bali

Balita di Banyuning Meninggal Karena DBD, DPRD Buleleng Tekankan Langkah Preventif

Singaraja (penabali.com) – Kasus meninggalnya seorang balita akibat demam berdarah dengue (DBD) di Kelurahan Banyuning, Kecamatan Buleleng, mendapat perhatian dari DPRD Kabupaten Buleleng. Lembaga legislatif menilai upaya pencegahan perlu diperkuat agar kasus serupa tidak kembali terjadi.

Korban diketahui seorang anak perempuan berusia 4 tahun yang meninggal dunia setelah mengalami DBD. Orangtua korban, Gede Andy Pradnyana, menuturkan gejala awal yang dialami putrinya muncul pada Kamis (2/4/2026) berupa demam tinggi.

Keesokan harinya, Jumat (3/4/2026), korban sempat dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) salah satu rumah sakit untuk mendapatkan penanganan medis. Setelah diperiksa, korban sempat diizinkan pulang.

Namun kondisi anak tersebut tidak kunjung membaik. Pada Sabtu (4/4/2026), keluarga kemudian memutuskan melakukan pemeriksaan darah di laboratorium.

“Minggu malam kami bawa lagi ke IGD dan disarankan cek darah ulang. Di situ baru didiagnosis mengarah ke DBD,” ujar Andy saat ditemui di rumah duka, Jumat (10/4/2026).

Kondisi korban semakin memburuk pada Senin (6/4/2026). Ia kemudian dipindahkan ke ruang ICU dan mendapat bantuan oksigen.

Menurut Andy, hasil pemeriksaan menunjukkan trombosit anaknya terus menurun. “Senin trombositnya sudah turun ke 60.000 mcl, lalu Selasa (7/4/2026) pagi turun lagi ke 30.000 mcl. Siangnya dinyatakan meninggal dunia,” katanya.

Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti sumber penularan penyakit tersebut. Di lingkungan sekitar rumahnya juga tidak ada laporan warga lain yang mengalami gejala serupa.

Kepala Puskesmas III Buleleng, dr. Siti Nurul Aisyah, menjelaskan bahwa pasien didiagnosis mengalami dengue shock syndrome (DSS), yaitu kondisi berat dari DBD yang dapat menyebabkan syok.

“Kami menerima informasi pasien meninggal pada 7 April malam dari pihak rumah sakit,” jelasnya.

Pihak puskesmas berencana melakukan penyelidikan epidemiologi di lingkungan tempat tinggal korban. Pemeriksaan akan difokuskan pada potensi sarang nyamuk maupun kemungkinan adanya warga lain yang mengalami gejala serupa.

“Kalau ada kasus seperti ini, kami cek lingkungan apakah ada genangan air atau jentik nyamuk. Kami rencanakan fogging hari Minggu, tetapi yang utama tetap pemberantasan sarang nyamuk (PSN),” ujarnya.

Menurutnya, fogging hanya efektif untuk membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik tetap harus diberantas melalui kebersihan lingkungan.

“Kami sudah melakukan sosialisasi sejak sebelum musim hujan. Namun menggerakkan masyarakat di wilayah perkotaan memang tidak mudah,” tambahnya.

Berdasarkan data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Buleleng, hingga awal April 2026 tercatat 109 kasus DBD di Buleleng.

Kepala Dinkes Buleleng, Sucipto, menyebutkan kasus DBD didominasi kelompok usia produktif 15–44 tahun sebanyak 42,2 persen. Disusul usia 5–14 tahun sebesar 33 persen, usia di atas 44 tahun 11 persen, serta usia 1–4 tahun dan bayi di bawah satu tahun dengan persentase lebih kecil.

“Kasus DBD juga ditemukan pada kelompok usia balita, yakni bayi di bawah 1 tahun sebanyak 5 kasus atau 4,6 persen, serta anak usia 1–4 tahun sebanyak 10 kasus atau 9,2 persen,” kata Sucipto.

Sementara itu, Sekretaris Komisi IV DPRD Buleleng, drh. Nyoman Dhukajaya, menilai kasus DBD masih menjadi persoalan endemik yang berkaitan erat dengan kondisi lingkungan.

“DBD ini penyakit endemik yang sangat dipengaruhi sanitasi, sampah, dan kepadatan penduduk. Pemerintah harus memperkuat langkah preventif agar tidak berkembang menjadi wabah,” ujarnya usai melayat ke rumah duka korban.

Ia juga menekankan pentingnya peran puskesmas dalam melakukan pemetaan wilayah rawan penyebaran DBD.

“Wilayah padat seperti Banyuning dari tahun ke tahun selalu ada kasus. Tim harus turun ke lapangan, mengecek sarang nyamuk serta memberikan edukasi kepada masyarakat agar kejadian seperti ini tidak terulang,” tegasnya.(uka)