Singaraja ( Penabali.com) – Ketua MPR RI Ahmad Muzani menegaskan pentingnya peran generasi muda dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 saat memberikan kuliah umum kebangsaan di Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja, Jumat (15/5). Dalam kesempatan tersebut, ia mengajak mahasiswa memperkuat pemahaman empat pilar kebangsaan sebagai fondasi menghadapi masa depan bangsa.
Kegiatan kuliah umum bertajuk “Memperkokoh Persatuan Dalam Bingkai Pancasila Menuju Indonesia Emas 2045” itu dihadiri ratusan mahasiswa, civitas akademika, tokoh agama, organisasi kemasyarakatan, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Aliansi Cipayung Plus, Aliansi BEM Bali Utara, serta sejumlah unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat di Buleleng.
Rektor IMK Singaraja, Prof. Dr. I Gede Suwindia, S.Ag., M.A., menyampaikan bahwa kehadiran Ketua MPR RI menjadi dorongan penting bagi penguatan nilai kebangsaan di lingkungan kampus. Ia juga menjelaskan bahwa IMK saat ini tengah melanjutkan pembangunan gedung pascasarjana, namun masih terkendala keterbatasan anggaran untuk penyelesaian tahap akhir.
Menurutnya, pembangunan struktur basement dan lantai dasar telah rampung, namun belum dapat difinalisasi secara keseluruhan. “Kami berharap adanya dukungan agar pembangunan ini bisa diselesaikan,” ujarnya.
Dalam sambutannya, Ahmad Muzani menekankan bahwa Indonesia pada 2045 akan memasuki usia 100 tahun kemerdekaan, yang menjadi momentum penting pergantian generasi kepemimpinan nasional. Karena itu, mahasiswa saat ini disebut sebagai calon pemimpin bangsa di masa depan. “19 tahun lagi Indonesia berusia 100 tahun. Saat itu, adik-adik mahasiswa hari ini akan berada pada usia produktif dan menjadi pemimpin bangsa. Karena itu, penting memahami dasar negara dan empat pilar kebangsaan,” kata Muzani.
Ia menegaskan, pemahaman terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika merupakan bekal utama dalam menjaga persatuan dan keutuhan bangsa di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Muzani juga menyebut, MPR RI terus melakukan sosialisasi empat pilar kebangsaan melalui berbagai kegiatan di perguruan tinggi sebagai upaya memperkuat karakter kebangsaan generasi muda.
Selain aspek kebangsaan, ia turut mendorong mahasiswa untuk memiliki kemandirian dan daya saing dalam menghadapi tantangan ekonomi global. Menurutnya, dinamika dunia internasional saat ini dapat berdampak langsung terhadap kehidupan masyarakat, termasuk harga kebutuhan pokok dan stabilitas ekonomi. “Mahasiswa harus mandiri, kreatif, dan inovatif. Tantangan global harus dijawab dengan kemampuan diri yang kuat,” ujarnya. (ika)

