Categories Bali Inovasi Klungkung

Pesanan Tenun Bali Meningkat, BRI Dukung Penguatan Modal Pelaku UMKM di Klungkung

Semarapura (Penabali.com) – Tingginya minat masyarakat terhadap kain tenun tradisional Bali membuka peluang besar bagi pelaku usaha lokal. Namun, di balik meningkatnya permintaan pasar, banyak perajin masih menghadapi kendala permodalan dan tingginya biaya bahan baku yang memengaruhi kapasitas produksi.

Salah satu pelaku usaha yang merasakan tantangan tersebut adalah I Wayan Bagiarta, pengusaha tenun ikat asal Klungkung yang telah mengembangkan usaha keluarga sejak akhir 1980-an. Untuk menjaga keberlangsungan usaha sekaligus meningkatkan kapasitas produksi, Bagiarta memanfaatkan fasilitas pembiayaan yang disalurkan oleh BRI.

Usaha tenun yang dikelolanya berawal dari aktivitas menenun yang dilakukan oleh sang ibu secara tradisional di rumah. Seiring waktu, permintaan pasar terus bertambah sehingga usaha tersebut berkembang dan melibatkan sejumlah penenun lokal dari berbagai daerah di Bali yang bekerja menggunakan alat tenun bukan mesin (ATBM).

Menurut Bagiarta, usaha yang dirintis keluarganya mulai berkembang sejak tahun 1989 dan sempat mempekerjakan hingga belasan penenun. Saat ini, sistem produksi masih berjalan melalui kemitraan dengan para perajin yang bekerja dari rumah masing-masing.

Berbagai produk tenun yang dihasilkan antara lain kain kamen, sarung, hingga kain jumputan yang banyak digunakan untuk kebutuhan adat, kegiatan masyarakat, maupun seragam organisasi seperti PKK. Produk-produk tersebut dipasarkan ke toko kain dan sentra kebaya di berbagai wilayah Bali.

Dalam sebulan, permintaan pasar mencapai sekitar 500 lembar kamen dan 500 lembar sarung. Meski demikian, proses produksi yang masih mengandalkan teknik tradisional membuat penyelesaian pesanan membutuhkan waktu antara tiga hingga empat bulan.

“Permintaan pasar cukup tinggi, tetapi proses pengerjaan tidak bisa dilakukan secara cepat karena seluruhnya masih menggunakan metode tradisional,” ujar Bagiarta.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan baku menjadi tantangan yang semakin berat. Harga benang yang sebelumnya berada di kisaran Rp400 ribu per pak kini meningkat hingga sekitar Rp900 ribu per pak. Satu pak benang tersebut dapat digunakan untuk menghasilkan sekitar 80 meter kain tenun.

Kondisi tersebut membuat kebutuhan modal usaha semakin besar, terutama untuk menjaga ketersediaan bahan baku dan mendukung pengembangan usaha. Melalui akses pembiayaan dari BRI, Bagiarta mengaku dapat memperkuat usahanya, termasuk membangun homestore sebagai sarana pemasaran produk.

Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan dukungan pembiayaan terhadap UMKM berbasis budaya lokal memiliki manfaat yang luas. Selain membantu pelaku usaha berkembang, langkah tersebut juga berkontribusi dalam menjaga keberlangsungan warisan budaya serta menciptakan perputaran ekonomi di masyarakat.

Menurutnya, usaha tenun yang dijalankan Bagiarta tidak hanya menghasilkan produk bernilai ekonomi, tetapi juga membuka peluang kerja bagi para penenun lokal di Bali.

“BRI mendukung pengembangan usaha pertenunan yang memberdayakan masyarakat lokal. Dengan demikian, aktivitas ekonomi masyarakat dapat terus tumbuh dan bergerak,” kata Hery.

Ia menambahkan, kebutuhan akses permodalan diperkirakan akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha setiap tahun. Karena itu, sektor perbankan memiliki peran strategis dalam mendukung pertumbuhan ekonomi, khususnya melalui pembiayaan bagi sektor riil dan UMKM.

Selain itu, pemerintah saat ini juga tengah mendorong penyaluran Kredit Program Perumahan (KPP) melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP), yang dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk membangun homestore maupun fasilitas pendukung usaha lainnya.

Hery menegaskan bahwa dukungan pembiayaan yang tepat akan membantu pelaku usaha meningkatkan skala bisnisnya sehingga mampu memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian daerah. (rls)