MANGUPURA (Penabali.com) – Tradisi membuat gerabah dari tanah liat masih bertahan di tengah perkembangan produk modern. Di Banjar Basang Tamiang, Desa Kapal, Kabupaten Badung, kerajinan yang diwariskan secara turun-temurun sejak sekitar 1970-an hingga kini tetap menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekaligus menopang perekonomian keluarga.
Salah satu perajin yang masih mempertahankan usaha tersebut adalah Nyoman Subarana. Ia merupakan generasi penerus usaha keluarga yang memproduksi berbagai perlengkapan berbahan tanah liat untuk kebutuhan upacara adat dan keagamaan Hindu di Bali.
Bagi Subarana, membuat gerabah bukan semata-mata pekerjaan untuk memperoleh penghasilan. Usaha tersebut menjadi bagian dari upaya keluarga untuk menjaga keterampilan yang diwariskan oleh orang tua dan leluhur agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.
Sejak masih kecil, Subarana sudah terbiasa melihat sekaligus mempelajari proses pembuatan gerabah. Pengetahuan tersebut diperolehnya secara langsung dari keluarga. Dari usaha yang awalnya dijalankan dalam skala kecil, kerajinan itu kemudian berkembang dan menjadi salah satu sumber utama pendapatan keluarga.
“Dari usaha inilah kami membesarkan keluarga. Hasilnya dipakai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, membiayai sekolah anak-anak, hingga membantu perekonomian keluarga besar. Anak kami ada dua. Karena itu, kami berusaha mempertahankan usaha ini agar tetap bisa diwariskan ke generasi berikutnya,” ujar Subarana.
Hingga saat ini, permintaan terhadap produk gerabah untuk keperluan upacara adat masih relatif terjaga. Beragam produk dibuat, di antaranya payuk pere, coblong, dulang, carat, serta perlengkapan lainnya yang digunakan dalam berbagai rangkaian kegiatan keagamaan, termasuk odalan, piodalan dan upacara ngaben.
Dari sejumlah kebutuhan tersebut, pesanan untuk upacara pengabenan menjadi salah satu yang paling banyak. Dalam satu pemesanan, jumlah gerabah yang dipesan pelanggan dapat mencapai sekitar 4.000 buah dengan berbagai jenis. Pesanan tersebut juga berlangsung secara berkala, rata-rata setiap dua hingga tiga pekan.
“Kalau sudah ada upacara besar, pesanannya bisa ribuan. Pembeli biasanya datang langsung ke tempat kami atau memesan lebih dulu karena sudah menjadi pelanggan tetap,” katanya.
Jangkauan pemasaran produk tidak hanya berada di sekitar Desa Kapal. Gerabah yang diproduksi keluarga Subarana juga disalurkan ke berbagai wilayah di Bali. Pelanggan maupun pengepul umumnya datang langsung ke lokasi untuk mengambil barang yang telah dipesan.
Di sisi lain, keberlangsungan produksi masih menghadapi tantangan, terutama terkait ketersediaan bahan baku. Tanah liat yang digunakan tidak hanya berasal dari satu daerah, melainkan diperoleh dari sejumlah wilayah di Bali. Untuk sekali pembelian bahan baku, Subarana perlu menyiapkan modal sekitar Rp1 juta.
Proses pembuatannya pun masih mempertahankan cara tradisional. Tanah liat dibentuk secara manual, kemudian dijemur di bawah sinar matahari hingga kering. Setelah itu, gerabah masuk ke tahap pembakaran menggunakan kayu bakar, jerami dan bahan bakar tradisional lainnya. Dalam sekali pembakaran, ratusan gerabah dapat diproses secara bersamaan.
Usaha keluarga tersebut kini melibatkan delapan orang tenaga kerja yang masih berasal dari lingkungan keluarga. Keterlibatan anggota keluarga tidak hanya membantu proses produksi, tetapi juga menjadi cara untuk mempertahankan teknik pembuatan gerabah yang telah diwariskan lintas generasi.
Untuk meningkatkan kapasitas usaha, Subarana juga memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) BRI sebesar Rp100 juta dengan tenor lima tahun. Dana tersebut digunakan sebagai tambahan modal kerja, terutama untuk pengadaan bahan baku dan memenuhi kebutuhan produksi ketika jumlah pesanan meningkat.
“KUR sangat membantu, terutama ketika pesanan sedang banyak. Modal bisa dipakai membeli bahan baku lebih awal sehingga produksi tidak terhambat,” ungkapnya.
Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, mengatakan dukungan terhadap pelaku UMKM tidak hanya ditujukan kepada usaha yang memiliki potensi ekonomi, tetapi juga kepada kegiatan usaha yang turut mempertahankan kekayaan budaya lokal.
Menurut Hery, usaha gerabah yang dijalankan Subarana menjadi contoh bagaimana aktivitas ekonomi masyarakat dapat berjalan beriringan dengan upaya menjaga tradisi. Pembiayaan melalui KUR diharapkan dapat membantu pelaku usaha memperoleh modal yang cukup untuk mengembangkan bisnis tanpa menghilangkan karakter tradisionalnya.
“BRI melihat pelaku UMKM seperti Bapak Nyoman Subarana bukan hanya menjalankan aktivitas ekonomi, tetapi juga menjaga keberlanjutan tradisi yang telah diwariskan selama puluhan tahun. Melalui pembiayaan KUR, kami ingin memastikan mereka memiliki akses permodalan yang memadai sehingga mampu meningkatkan kapasitas usaha tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya yang menjadi kekuatan utamanya,” ujar Hery.
Ia menambahkan, keberadaan UMKM berbasis budaya juga memberikan dampak terhadap ekosistem ekonomi di sekitarnya. Aktivitas tersebut tidak hanya menyediakan lapangan pekerjaan, tetapi turut menggerakkan rantai ekonomi mulai dari penyedia bahan baku hingga tenaga kerja dan pemenuhan kebutuhan masyarakat dalam pelaksanaan upacara adat.
“BRI percaya UMKM berbasis kearifan lokal memiliki daya tahan yang kuat karena tumbuh bersama kebutuhan masyarakat. Oleh sebab itu, kami akan terus memperluas akses pembiayaan produktif agar pelaku usaha tradisional semakin berkembang, lebih sejahtera, dan mampu mewariskan usahanya kepada generasi berikutnya,” tutup Hery.

