Categories Buleleng Kriminal

Insiden Keributan Petugas dengan Warga di Desa Sidatapa, Begini Penjelasan Kapenrem 163/Wira Satya

Denpasar (Penabali.com) – Insiden keributan terjadi antara petugas dengan warga Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Senin (23/08/2021).

Kapenrem 163/Wira Satya Mayor Arm. Ida Bagus Putu Diana Sukertia seijin Danrem 163/Wira Satya Brigjen TNI Husein Sagaf, lantas memberikan tanggapan.

Kapenrem menjelaskan awal kejadiannya. Bermula atas kesepakatan dan permintaan pihak aparat dan tokoh masyarakat Desa Sidatapa, Satgas Penanganan Covid-19 Kabupaten Buleleng beserta tenaga kesehatan dari Puskesmas Banjar I melaksanakan swab tes rapid antigen bagi warga desa setempat, bertempat di Wantilan Pura Dalem Agung, Desa Sidatapa, Kecamatan Banjar, Kabupaten Buleleng, Senin (23/08/2021). Kegiatan tersebut dihadiri Dandim 1609/Buleleng, Danramil Banjar, Kapolsek Banjar, Kades Sidatapa, dan tokoh masyarakat desa setempat.

Pelaksanaan kegiatan tersebut juga melibatkan Kodim 1609/Buleleng bekerja sama dengan Puskesmas I Banjar dipimpin Letkol Inf. Muhamad Windra Lisrianto yang juga didampingi Danramil 1609-06/Banjar beserta anggota, Kapolsek Banjar Kompol Made Agus Dwi Wirawan, Perbekel Desa Sidatapa Ketut Budiasa, tokoh masyarakat Desa Sidatapa dan juga warga masyarakat Desa Sidatapa.

Kapenrem melanjutkan, saat pelaksanaan Swab Test Rapid Antigen berlangsung melintaslah dua orang anak muda berboncengan menggunakan sepeda motor Scoopy warna Silver dengan tidak memakai masker. Kemudian melihat hal tersebut, Anggota Tim Nanggala berusaha menghentikan kedua anak muda tersebut, namun kedua orang tersebut tidak mau berhenti malah menabrak salah satu Anggota Kodim 1609/Buleleng yang tergabung di Tim Nanggala yakni Kopda Made Sastrawan yang menyebabkan tangannya lecet.

“Karena tindakan dua anak muda tersebut sudah membahayakan petugas yang memang sedang melaksanakan tugas, selanjutnya kedua pelaku dikejar oleh anggota BKO dari Raider 900/SBW Pratu Gagas Ribut Supriantoko namun tidak berhasil,” jelas Kapenrem.

Ia menambahkan, berselang sekitar 5 menit kedua pemuda kembali mendatangi Pratu Gagas Ribut Suprianto dan menanyakan dengan nada menantang dan suara kencang, “kenapa-kenapa kamu memanggil saya?”. Dan dijawab oleh anggota, “kenapa kamu menabrak anggota”, selanjutnya anggota tersebut membawa kedua pemuda menghadap Dandim 1609/Buleleng untuk dilaksanakan Swab Test Rapid Antigen.

Karena lokasi kejadian dekat dengan rumah kedua pemuda tersebut, kemudian secara tiba-tiba keluarga dari pemuda tersebut, sekitar 5 orang, mendatangi lokasi untuk mengambil pemuda tersebut dengan cara menarik agar tidak dilaksanakan Swab Test Rapid Antigen.

Dandim 1609/Buleleng yang ada di lokasi memerintahkan kepada anggota untuk menahan kedua pelaku agar dilaksanakan Swab Test Rapid Antigen. Namun tiba-tiba, kepala bagian belakang Dandim 1609/Buleleng dipukul oleh oknum warga bernama Kadek D yang masih berstatus sebagai mahasiswa dengan menggunakan tangannya.

“Melihat kondisi demikian, Pratu Gagas Ribut Suprianto berusaha mengamankan pelaku namun karena adanya perlawanan dari pelaku maka secara spontan terjadi saling pukul antara anggota dengan oknum masyarakat,” sebut Kapenrem.

Setelah adanya kejadian tersebut, pihak keluarga pelaku membawa pelaku pulang ke rumah didampingi langsung Dandim 1609/Buleleng untuk melaksanakan mediasi guna menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pukul 11.00 Wita, Dandim 1609/Buleleng kembali ke Wantilan Pura Bale Agung. Namun karena situasi warga Desa Sidatapa sudah berkumpul, maka untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan, maka mediasi kembali dilanjutkan dengan keluarga oknum pelaku dengan melibatkan Perbekel Sidatapa dan tokoh masyarakat Desa Sidatapa agar permasalahan dapat diselesaikan secara kekeluargaan.

“Satu setengah jam kegiatan mediasi berlangsung namun hasilnya belum ditemukan titik temu dikarenakan dari pihak keluarga pelaku yang merasa menjadi korban pemukulan meminta waktu untuk melaksanakan musyawarah dengan keluarga besar,” terangnya.

Karena situasi belum memungkinkan, lanjut Kapenrem, kegiatan Swab Test Rapid Antigen dihentikan oleh Dandim 1609/Buleleng karena masyarakat Desa Sidatapa menolak untuk dilanjutkan kegiatan tersebut.

“Kita tentu sangat menyayangkan kejadian ini, petugas hadir di lapangan sebagai bagian Satgas Covid-19 dalam melakukan tugas adalah atas perintah perundang-undangan atau aturan yang diberlakukan saat ini dalam situasi pandemi, terlebih ada permintaan dari pihak aparat desa setempat,” ujarnya.

Kapenrem mengatakan, adanya tindakan penertiban atau pendisiplinan justru ada oknum warga yang membahayakan keselamatan petugas bahkan menantang dan membentak. Kemudian disampaikan baik-baik malah memukul aparat dalam hal ini kepada Dandim 1609/Buleleng hingga harus menerima benjolan dan saat ini sudah divisum.

Menurut Kapenrem, respon anggota melakukan pemukulan balik ke warga bersangkutan tidak terlepas dari sikap spontan terhadap apa yang dialami Dandim di saat berusaha mengendalikan dan mengajak masyarakat disiplin terhadap protokol kesehatan.

“Sejauh ini kondisi sudah aman dan kondusif. Kita tegaskan juga bahwa apa yang dilakukan aparat tidak terlepas sebagai respon terhadap perilaku warga di lokasi kejadian. Dan secara hukum hal ini bisa juga berproses karena di saat penegakan aturan PPKM Level 4 seperti saat ini, ada warga yang melawan aparat yang sejauh ini sebelum kejadian ini sudah sangat menunjukan sikap-sikap persuasif dan humanis di lapangan,” tutur Kapenrem.

Menanggapi apa yang beredar di media sosial (video singkat yang beredar, red), Kapenrem meminta agar dilihat secara utuh.

“Bukan sepenggal saja tanpa melihat apa penyebab awal atau proses terjadinya,” pungkasnya. (rls)