Categories Bali Berita Buleleng

Kisah “Kumbakarna” yang Jarang Diceritakan, Butuh Waktu Bertahun – Tahun Untuk Mengetahui Kematian Tragis Raksasa Alengka

Singaraja ( Penabali ) – “Tan Kueh Ujar, Yukti Danu, tan Waten Ingeh Muang Pitutur, Sitan Upa Desa, Rikite Apang Made, Damuh Tan Puti”, begitulah kakawin yang dilontarkan sosok Kumbakarna ke kakaknya Rahwana sesaat hendak perang melawan pasukan Ayodya dalam cerita Ramayana di pementasan Wayang Wong.

Kekawin itu memiliki pesan mendalam Kumbakarna terhadap Raja Rahwana yang melarikan istri sah dari Rama ke Negeri Alengka. Dalam kakawin itu pula, disebut barang siapa yang berani melarikan istri orang, dia adalah raja yang tidak berprikemanusiaan yang bisa menyebabkan negeri Alengka hancur.

Di balik kisah Ramayana, ada satu tokoh yang sering terabaikan, memiliki peran begitu besar bagi Negeri Alengka. Kumbakarna. Adik dari Rahwana ini bukan sekadar sosok seram, Ia juga dikenal sebagai sosok yang gagah, kuat, rela berkorban dan siap maju berperang karena kesetiaannya pada negeri Alengka.

Namun dalam kisah Wayang Wong khususnya dari Desa Tejakula, Kumbakarna merupakan sosok yang paling seram di antara sejumlah tapel atau topeng yang dimiliki. Hanya saja, kisah magis Kumbakarna hingga tewasnya jarang diketahui masyarakat. Bahkan untuk menyaksikan lakon gugurnya Kumbakarna dalam pementasan Wayang Wong khas Desa Tejakula, masyarakat harus bersabar. Tidak sebulan, tidak setahun, tapi bisa menunggu hingga lima atau enam tahun.

Penasaran dengan kisah dan sosoknya, Kami bertemu dengan seorang penari, yang kerap menarikan sosok Kumbakarna di setiap pementasan wayang wong, baik di Pura maupun tempat lainnya. Namanya Gede Komang, mantan Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Buleleng yang memiliki trah atau waris penari wayang wong dari tetuanya terdahulu.

Ia menceritakan Kumbakarna merupakan sosok paling seram diantara tapel – tapel yang dimiliki Yayasan Wayang Wong Tejakula. Seram dan aura magis Kumbakarna ini bukan tanpa alasan. Tetua terdahulu dalam proses pembuatan tapel wayang wong memang melalui beberapa ritual.

Salah satunya mengubur kayu – kayu yang akan menjadi bahan tapel selama berpuluh – puluh tahun. Hal itu dilakukan agar dalam proses pembuatannya mendapatkan restu dari pertiwi. Kayu – kayu yang digunakan sebagai tapel pun merupakan kayu pilihan, seperti Kayu Pule, Kayu Tawas, Kayu Banoe yang mungkin saat ini sudah jarang ditemui.

“Itu kenapa topeng – topeng wayang wong tejakula sangat sakral. Proses yang dilalui juga ada ritualnya. Tetua kami mewariskan itu. Sehingga Ketika menari aura sacral dan magisnya begitu terasa,”ungkapnya.

Kesakralan tapel Kumbakarna pun dibarengi dengan kisahnya yang jarang diketahui masyarakat. Dalam lakon wayang wong khas Tejakula gugurnya Kumbakarna biasanya ada di bagian kande atau bagian ketujuh.

Sedangkan dalam setiap pementasan, satu kande bisa mencapai satu sampai dua tahun, tergantung pelaksanaan upacara – upakara di Desa Tejakula. Biasanya, kande – kande cerita Ramayana bisa disaksikan di Pura Pemaksan, Pura Kahyangan Tiga, Pura Dangka, Pura Ratu Gede. Termasuk di Pura Sekar, Puru Pingit, Pura Dangin Carik hingga Pura Segara Desa Tejakula.

“Cerita ini tak tentu, tergantung Piodalan, Ramayana paling cepat 5 tahun sampai kande ketujuh. Itupun kalau upacara sering. Terkadang dalam satu kande bisa mencapai dua tahun,”imbuhnya.

Gugurnya Kumbakarna merupakan salah satu lakon yang paling sedih dari beberapa bagian atau kanda yang ada.

Kisah bermula saat sang Raja Rahwana mulai panik setelah berbagai serangan dari pasukan Rama. Rahwana pun berniat membangunkan Kumbakarna dari tidurnya yang panjang untuk memintanya menjadi panglima perang. Kumbakarna yang ingin membela negerinya pun menyanggupi untuk berperang melawan pasukan ayodya.

Satu persatu,pasukan kera milik Rama pun dihancurkan. Bahkan Hamunan pun sempat tidak berdaya melawan kemurkaan dari Kumbakarna. Hingga akhirnya, panah Indraprasta pun dikeluarkan dari tangan Rama. Satu persatu, anak panah mengenai tubuhnya.

Ciri kematian Kumbakarna diawali dengan kondisi alam semesta yang mulai gelap gulita. Petir menyambar ditambah segerombolan burung yang mati di hadapan Kumbakarna. Raut sedih pun terpancar dari wajah Kumbakarna, mengetahui jika dirinya akan tewas dalam pertempuran kali ini.

“Saya sudah ikhlas untuk mati kali ini. Saya ikhlas mau ke sunia loka. Tubuh Kumbakarna terpotong sana – sini, hanya menyisakan kepala yang dibawa kesana kemari oleh pasukan Ayodya, ”ungkap Gede Komang memaparkan kisah gugurnya Kumbakarna.

Cikal Bakal Wayang Wong Terbentuk

Nama Tejakula yang kini dikenal luas ternyata menyimpan jejak sejarah panjang. Berdasarkan prasasti Raja Ragajaya tahun 1155 M, wilayah ini awalnya bernama Desa Peminggir, sebuah desa yang terletak di antara gunung dan laut.

Kisah perubahan nama Peminggir menjadi Tejakula bermula pada tahun 1828, saat Raja Karangasem, Anak Agung Gede Karang, berperang melawan Raja Selaparang di Lombok Barat. Pasukan Karangasem saat itu diperkuat oleh warga Desa Peminggir. Berkat bantuan tersebut, Raja Karangasem meraih kemenangan. Sebagai penghargaan, para prajurit Peminggir dijuluki Kaula Meteja atau “tentara bersinar”. Sejak saat itu, Desa Peminggir dikenal dengan nama baru, yakni Tejakula.

Seperti halnya desa tua lain di Buleleng, misalnya Sidatapa, Cempaga, dan Sembiran, penduduk Tejakula mayoritas berasal dari Pasek Dangka terdahulu. Warga setempat sejak dahulu dikenal sebagai petani sekaligus perajin ulung, khususnya pembuat ukiran, kerajinan perhiasan hingga topeng. Salah satu warisan budaya yang paling menonjol adalah Wayang Wong Tejakula.

Penelitian pun dilakukan. Salah satunya pada tahun 1977 oleh Prof. Dr. I Made Bandem, MA. Hasilnya sejumlah tapel utama seperti Rama, Laksmana, Sugriwa, dan Rahwana diyakini merupakan hadiah dari Raja Bangli pada akhir abad ke-19. Sisanya dibuat langsung oleh seniman-seniman Tejakula.

Pertunjukan Wayang Wong ini selalu membawakan lakon Ramayana versi kakawin Bali yang terdiri dari 26 bagian, dengan pakem yang lengkap, dialog berbahasa Kawi, serta perpaduan adegan halus, keras, humor, hingga peperangan.

“Wayang Wong Tejakula bukan hanya tontonan, tapi juga bagian dari upacara sakral. Pementasan rutin digelar setiap enam bulan sekali pada hari Manis Galungan dan Pahing Galungan,” ujar Prof Bandem.

Karena tergolong sakral, topeng – topeng sakral itupun akhirnya di stanakan di Pura Pemaksan Tejakula. Sejumlah tokoh pun membuat kesepakatan untuk membuat topeng duplikat ketika akan pentas di luar Pura yang ada di Desa Tejakula. Meski sudah di duplikat, tarian dan pemahaman ceritanya pun tak ada perubahan. Prof Bandem ingat, proses duplikat tapel atau topeng itu dinamai “Mutraning” yang artinya terbentuk kembali.

“Agar tidak mengurangi makna sakral itu, akhirnya dibuatkan duplikat oleh para pengrajin disana. Bahkan hingga kini, kalau pentas keluar wilayah Tejakula, yayasan Teja Kukus akan membawa topeng duplikatnya,”terang Prof Bandem. (ika)

Penulis : Komang Yudha

Editor : Kartika