Categories Bali Berita Buleleng

Mahasiswa KKN STAHN Mpu Kuturan Singaraja Gelar Program “EcoPurity” di Nagasepaha

Singaraja ( Penabali.com) – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Mpu Kuturan (IMK) Singaraja menunjukkan kepeduliannya terhadap pelestarian lingkungan dan nilai-nilai spiritual melalui kegiatan bertajuk “EcoPurity”, yang digelar di Pancoran Manasuli, Desa Nagasepaha, Kecamatan Buleleng, pada Jumat (24/10/2025).

Program ini mengusung konsep Eco-Theology, yakni ajaran yang menekankan harmoni antara manusia, alam, dan nilai-nilai spiritual keagamaan. Melalui kegiatan ini, para mahasiswa berupaya menjaga kebersihan sekaligus kesucian kawasan pancoran yang selama ini dikenal sebagai tempat masyarakat melakukan melukat atau penyucian diri.

Beragam kegiatan digelar dalam program EcoPurity, mulai dari pembersihan area pancoran dari sampah plastik, penggantian wastra dan tedung, penanaman pohon untuk kebutuhan upacara, hingga melukat bersama sebagai penutup acara. Suasana penuh kebersamaan dan kesadaran ekologis terasa kuat sepanjang kegiatan berlangsung.

Koordinator KKN Desa Nagasepaha, Putu Budi Sugihartana, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan bentuk nyata kontribusi mahasiswa dalam menjaga kelestarian lingkungan suci. “EcoPurity berfokus pada upaya menjaga kawasan suci agar tetap bersih dan lestari. Kami berharap kegiatan ini bisa memberi manfaat, baik bagi lingkungan sekitar maupun bagi masyarakat yang memanfaatkan pancoran sebagai tempat penyucian diri,” ujarnya.

Apresiasi juga datang dari Perbekel Desa Nagasepaha, I Wayan Sumeken, S.Sos., yang menilai kehadiran mahasiswa KKN membawa energi positif bagi desa. “Kehadiran anak-anak KKN ini memberi dampak nyata bagi lingkungan desa kami. Mudah-mudahan sinergi seperti ini dapat terus berlanjut antara Desa Nagasepaha dan IMK,” ungkapnya.

Kegiatan EcoPurity yang dilaksanakan secara sederhana namun sarat makna ini menjadi simbol sinergi antara mahasiswa dan pemerintah desa dalam mewujudkan kesadaran menjaga kebersihan kawasan suci. Lebih dari itu, kegiatan ini juga menjadi implementasi nyata nilai-nilai Tri Hita Karana — parahyangan, pawongan, dan palemahan — sebagai fondasi keseimbangan antara hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam.