Perumda Tirta Hita Buleleng Lakukan Strategis Teknis dan Non Teknis, Antisipasi Dampak Musim Kemarau

Buleleng (Penabali.com) – Menyikapi dampak musim kemarau yang diperkirakan lebih lama tahun ini, Perumda Tirta Hita Buleleng (THB) akan menerapkan strategi secara teknis maupun non teknis agar masyarakat penerima layanan air bersih di wilayah Kabupaten Buleleng tetap terlayani secara prima.

Direktur Utama Perumda THB, Made Lestariana, menjelaskan strategi secara teknis yakni mengoptimalkan 60 titik sumber air yang dikelola perusahaan dengan total debit 858 liter/detik. Ada 62 ribu pelanggan dari 68 desa/kelurahan di Kabupaten Buleleng.

”Jika dihitung antara supply air dengan jumlah pelanggan di Buleleng mencukupi, namun musim kemarau yang diperkirakan lebih panjang tentunya akan ada potensi gangguan layanan,” ucapnya.

Gangguan layanan tersebut, ungkap Dirut Lestariana, terjadi pada puncak pemakaian pagi hari dan sore hari. Untuk itu, pihaknya selalu melakukan pengawasan, pengecekan dan pengaturan alat-alat, sarana dan saluran pipa air.

“Penelusuran pipa transmisi untuk mencegah adanya kebocoran, optimalisasi operasi pompa produksi 24 jam karena ada beberapa pompa tidak 24 jam contoh pompa di daerah Gerokgak, kemudian optimalisasi pemanfaatan reservoir untuk menampung air jam puncak pemakaian contoh di Padang Bulia, pemasangan inverter di panel pompa untuk menghindari tekanan tinggi pada malam hari untuk menstabilkan kecepatan pada pompa jika ada kebocoran tidak banyak terbuang, lalu pemeliharaan utilitas pipa transmisi dan sumber air dengan pembersihan screen dan pengawasan pintil angin yg mempengaruhi tekanan air,” papar Lestariana menjelaskan.

Selain itu, Perumda THB juga telah memasang boster pompa untuk mengangkat air di daerah ketinggian seperti di Penarukan, Baktisraga, dan Desa Petandakan bagian selatan.

Direktur Utama Perumda THB, Made Lestariana (foto: ist.)

“Saat ini juga sudah dibangun sumur bor di Jalan Pulau Obi, sudah 60 persen pengeborannya harapannya selesai akhir tahun untuk mensuplai air saat puncak kemarau khususnya bulan November,” jelasnya.

Pemasangan valep-valep koneksi di antara sumber yang ada diatur untuk pemerataan aliran air, juga pemindahan jaringan pipa, penggantian pipa yang lebih besar, contohnya di Desa Petandakan dari pipa 3 dm menjadi 4 dm.

Selain upaya secara teknis, strategi non teknis tetap dilakukan seperti pelayanan dengan mobil tangki dengan 4 unit armada untuk mengantisipasi gangguan layanan.

”Kami selalu siap jika pelanggan yang membutuhkan air bersih dengan mobil tangki dengan menghubungi kami. Juga kami layani jika desa-desa mengalami bencana kekeringan dan membutuhkan air bersih silakan bersurat melalui perbekelnya. Kami selalu bersinergi, koordinasi dengan BPBD Buleleng untuk antisipasi bencana kekeringan, BPBD telah memiliki peta resiko bencana kekeringan di Buleleng dan ini merupakan bentuk aksi sosial kami,” terangnya.

Dirut Lestariana menghimbau masyarakat agar selalu efisien menggunakan air, menampung air pada bak maupun tangki penampungan saat air mengalir untuk antisipasi penggunaan puncak.

“Untuk jangka panjang bersama pemerintah dengan melakukan penanaman pohon, membuat biopori-biopori untuk menjaga kelanjutan ketersediaan air tanah,” pungkasnya. (rls)