Plaga Farm, Produk Pertanian Premium dari Bali, Gunakan Sistem Hidroponik dan Bebas Pestisida

Badung (Penabali.com) – Plaga Farm, pemimpin yang diakui di sektor pertanian Bali mengumumkan inisiatif re-branding perusahaan yang luas untuk mengakselerasi pertumbuhan perusahaan dan meningkatkan visi perusahaannya.

Upaya re-branding perusahaan meliputi transformasi besar-besaran pada identitas, website, dan progran Corporate Social Responsibility (CSR) bertajuk “Farm to Community”. Pengembangan Plaga Farm merupakan komitmen terhadap inovasi dalam membina masa depan yang berkelanjutan.

Dengan visi baru ini, Plaga Farm kini fokus mengembangkan sistem dengan konsep keberlanjutan di 6 bidang. Yakni teknologi rumah kaca, pengolahan limbah, manajemen produksi berlebih, penelitian dan pengembangan, kerjasama dan kolaborasi lintas disiplin, serta pemberdayaan masyarakat lokal.

“Plaga Farm memproduksi produk pertanian premium, kita kembangkan dengan sistem hidroponik dan free pestisida karena dikembangkan di dalam ruangan sehingga hama itu tidak bisa masuk,” ujar CEO dan pendiri Plaga Farm, I Gede Bingin Mustika pada acara gathering Plaga Farm bertempat di ST Regis Bali Resort, Jumat (01/04/2022).

Bingin Mustika dihadapan mitra Plaga Farm baik retail, hotel, dan villa menerangkan usahanya ini dimulai dengan sistem pertanian terbuka konvensional pada tahun 1997.

Beef tomato, salah satu produk andalan Plaga Farm. (foto: ist.)

“Saya pernah menangis di ladang karena sempat gagal akibat faktor cuaca, saya sangat sedih apalagi modal usaha saya waktu itu minjam di bank,” ujar Bingin mengenang masa kritisnya.

Namun seiring waktu dan tekad serta komitmen kuat Bingin Mustika untuk sukses di bidang pertanian, dirinya mencoba untuk terus bangkit, mencoba dan mencoba. Karena menurutnya, kegagalannya memantik dirinya untuk bekerja lebih keras lagi.

“Saya teringat pesan seseorang, beliau sudah almarhum, semoga beliau ada di tempat ini sekarang, saya terpacu ucapan beliau bahwa kita tidak perlu mengikuti pola atau sistem pertanian di luar negeri tapi lakukanlah dengan caramu (pertanian, red) sendiri, dengan budayamu, karena itu akan memberikan kamu kesuksesan,” ungkap Bingin.

Benar saja, Plaga Farm kini telah berkembang sebagai penanam hidroponik terkemuka di Bali. Dibawah PT Agrito Roman Bali, Plaga Farm telah memberikan lini produk segar terbaik dan premium.

“Saat ini Plaga Farm jadi pengembang beef tomato terbesar di Indonesia, mampu produksi 8,5 sampai 10 kg,” sebutnya.

Bingin mengungkapkan, Plaga Farm dimulai dengan misi sederhana yakni membangun kesejahteraan masyarakat melalui pertanian dan mempromosikan gaya hidup yang lebih sehat dengan mengkonsumsi makanan terutama buah dan sayuran yang organik.

Produk melon Plaga Farm.(foto: ist.)

“Pandemi telah mengajarkan kita bahwa kita perlu bekerjasama untuk membuat gerakan berkelanjutan dalam mengejar masa depan yang lebih baik,” kata Bingin.

Lebih lanjut dikatakan, identitas branding baru ini mencerminkan pendekatan Plaga Farm terhadap pembangunan berkelanjutan. Selama 20 tahun terakhir, Bingin Mustika merasa yakin dan optimis dengan kemampuan perusahaan untuk melanjutkan dan memberikan kontribusi positif yang mengarah pada peningkatan sosial, lingkungan, dan ekonomi di komunitas di tempat Plaga Farm berproduksi.

Tagline baru “Foster Sustainable Future”, re-branding adalah bagian dari strategi organisasi untuk mengembangkan bisnisnya dan menciptakan landasan untuk pertumbuhan dan ekspansi di masa depan.

Situs web perusahaan yang diperbarui, www.plagafarmbali.com, mencakup pengalaman berbelanja yang efisien dan ramah pengguna serta informasi mendalam yang ditargetkan untuk segmen utama Plaga Farm yakni industri korporat dan perhotelan, ritel, asosiasi yang berpikiran sehat, dan komunitas.

“Tahun 2013 kita melakukan re-branding dengan nama Plaga Farm, kita masuk pasar ritel meliputi area Bali, Surabaya dan Jakarta saat ini,” jelas Bingin seraya menambahkan saat Raja Salman berkunjung ke Bali, fresh product-nya dari Plaga Farm. (red)