Denpasar (Penabali.com) – Kebutuhan beras di Provinsi Bali diperkirakan mencapai 412.929 ton pada tahun 2024, sementara produksi yang dihasilkan hanya sekitar 365.424 ton. Artinya, Bali mengalami defisit beras sebesar 47.505 ton. Kondisi ini diakibatkan oleh sejumlah persoalan di sektor pertanian, seperti penyusutan lahan sawah, berkurangnya jumlah petani, serta dominasi petani berusia lanjut dengan tingkat pendidikan yang rendah.
Hal tersebut disampaikan Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Udayana (Unud), Prof. Dr. Ir. Dewa Ngurah Suprapta, M.Sc., saat memberikan kuliah umum kepada mahasiswa dari Tokyo University, Jepang, di Gedung Agrokompleks, Kampus Unud Sudirman, Senin (10/3/2025).
Kegiatan ini merupakan bagian dari kunjungan akademik Tokyo University ke Bali pada 10–15 Maret 2024. Sebanyak enam mahasiswa dan tiga profesor dari Jepang, termasuk Prof. Yasunobo Matsumoto dari bidang Ilmu Peternakan, turut mengunjungi beberapa kawasan pertanian seperti Jatiluwih dan Kintamani.
Dalam paparannya, Prof. Suprapta menjelaskan bahwa penerapan teknologi pertanian cerdas (smart farming) bisa menjadi solusi peningkatan produktivitas, namun penerapannya masih menghadapi tantangan struktural. “Petani kita sebagian besar sudah berusia tua dan memiliki tingkat pendidikan rendah. Selain itu, kepemilikan lahan rata-rata hanya 0,5 hektare dengan kondisi topografi yang menantang,” ujarnya.
Ia mencontohkan, pemanfaatan teknologi seperti drone untuk penyemprotan pestisida di lahan-lahan pertanian yang luas, seperti subak dengan total area 100 hektare, bisa menjadi langkah awal untuk memperkenalkan pertanian modern kepada petani. “Jika petani melihat manfaat nyata dari teknologi, mereka mungkin akan terbuka untuk bertransformasi,” tambahnya.
Saat menjawab pertanyaan dari salah satu mahasiswa Tokyo University terkait tingkat kesejahteraan petani, Prof. Suprapta mengakui bahwa banyak petani Bali tidak sepenuhnya bergantung pada pertanian sebagai sumber utama penghasilan. Ia menyebutkan, di Gianyar misalnya, banyak petani juga terlibat dalam kerajinan seperti mematung atau melukis, sementara di daerah lain, banyak petani bekerja sebagai buruh bangunan.
Untuk memahami lebih jauh realita tersebut, Prof. Suprapta mendorong para mahasiswa agar melakukan observasi langsung di lapangan, termasuk mengukur waktu kerja petani di sawah dibandingkan aktivitas lainnya. Hal ini juga berkaitan dengan rendahnya kontribusi pendapatan dari sektor pertanian terhadap ekonomi petani.
Dari data yang dipaparkan, luas lahan pertanian di Bali saat ini mencapai 359.694 hektare, dengan lahan sawah hanya sekitar 71.836 hektare atau 19,97%. Luas panen padi pada 2024 diproyeksikan 107.225 hektare, dengan intensitas tanam 1,49 kali per tahun dan produktivitas gabah 6,04 ton per hektare. “Diperlukan kolaborasi antar pemangku kepentingan untuk meningkatkan produksi beras agar defisit ini dapat ditekan,” tegasnya.
Selain membahas isu pertanian, kuliah umum juga menghadirkan pemaparan dari Guru Besar Fakultas Kedokteran Hewan Unud, Prof. I Nyoman Manik Astawa, yang menjelaskan berbagai penyakit hewan endemik di Bali. Salah satu topik yang menarik perhatian mahasiswa Jepang adalah ketersediaan vaksin untuk mengatasi penyakit Jembrana pada sapi.
Rombongan Tokyo University disambut secara resmi oleh Dekan Fakultas Pertanian Unud, Dr. I Putu Sudiarta, SP., MP., dan Dekan Fakultas Kedokteran Hewan Unud, Prof. Dr. drh. I Nyoman Suartha, M.Si. Kunjungan ini merupakan bagian dari kerja sama akademik antara Tokyo University dan Universitas Udayana di bidang pertanian dan peternakan. (ika)

