Penabali.com – Sejak tahun 2012, Jawa Timur secara mandiri telah mengelola sampahnya dengan baik. Mulai di tingkat rumah tangga, RT/RW, hingga ke tingkat desa/kelurahan.
Berbagai upaya pun telah dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur untuk mengedukasi masyarakatnya mengenai tata kelola sampah secara mandiri. Hal ini turut dituturkan Agus Sutjahjono selaku Kasi Pengembangan Infrastruktur Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Provinsi Jawa Timur saat kunjungan wartawan DPRD Bali (forward) ke Kantor DPRD Jawa Timur, Rabu (16/6/2021).
“Pemerintah Jawa Timur sudah berkomitmen bersama masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri. Bahkan sampah yang dikelola saat ini sudah dimanfaatkan menjadi energi listrik,” terang Agus.
Tidak hanya menjadi energi listrik, tambah Agus, beberapa Tempat Pengelolaan Sampah Terpadu (TPST) juga mengolah sampahnya menjadi briket untuk memenuhi kebutuhan UMKM yang berada di Jawa Timur.
Agus menuturkan, bahwa mengedukasi masyarakat terkait pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri merupakan pekerjaan yang sangat sulit. Tidak hanya berupa tindakan persuasif berupa sosialisasi, berbagai lomba menarik pun sering diselenggarakan guna menumbuhkan pola atau kebiasaan baru dari masyarakat terkait pengelolaan sampah.
Program Desa Berseri merupakan satu dari beberapa kiat menarik yang dilakukan DLH Provinsi Jawa Timur untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah secara mandiri.

“Desa Berseri adalah desa rintisan yang perlu pendampingan untuk melakukan proses pengolahan sampah,” kata Agus.
Dalam program ini, ada total sebanyak 800-an desa diinisiasi menjadi Desa Berseri. Agus mengatakan, di Jawa Timur ada sekitar 8.500 desa, kemudian artinya hanya 10 persen yang bisa diinisisasi untuk program Desa Berseri.
Menurut data DLH Provinsi Jawa Timur, total sebanyak 60,94 persen sampah yang dihasilkan oleh masyarakat merupakan sampah organik, sedangkan sisanya merupakan sampah plastik atau anorganik. Peran masyarakat di tingkat rumah tangga adalah dalam proses pemilahan sampah di dua kategori tersebut.
Menurut Agus, jika sejak dari rumah sampah telah terpilah dengan baik, maka proses pengelolaan sampah hingga sampai di TPST akan jauh lebih mudah dan lebih cepat.
Bantuan sarana dan prasarana pembuatan kompos di masing-masing desa juga diberikan DLH Provinsi Jawa Timur. Hal ini bertujuan untuk membentuk kemandirian masing-masing desa beserta masyarakatnya dalam proses pengelolaan sampah.
“Kami harap jangan sampai sampah organik yang bisa diolah menjadi pupuk organik, sampai masuk ke TPA,” pungkasnya. (pus)

