Bertepatan pada Soma Kliwon Kuningan Senin (29/7) pagi, krama Desa Adat Kerobokan melangsungkan puncak Karya Agung Mamungkah, Ngenteg Linggih, Ngusaba Desa, Ngusaba Nini, Tawur Balik Sumpah Utama, Padudusan Agung dan Segara Kertih, di Pura Desa dan Puseh desa adat setempat.
“Menurut tetua kami, karya Ngusaba Nini terakhir kali dilaksanakan tahun 1979. 40 tahun lamanya baru kali ini kami bisa kembali menggelar karya ini,” ujar Bendesa Adat Kerobokan Anak Agung Putu Sutarja didampingi Manggala Karya Anak Agung Ngurah Gde Sujaya, dan salah seorang panitia Wayan Suwandi, di Utamaning Mandala Pura Desa lan Puseh, usai rangkaian puncak karya agung.
Anak Agung Putu Sutarja juga menerangkan, digelarnya karya agung ini adalah untuk menyucikan seluruh bangunan fisik pelinggih pada tempat suci termasuk dilingkungan Pura yang terdiri dari Tri Mandala. Dimana sebelumnya bangunan yang baru saja rampung dikerjakan ini belum disucikan. Karena itu, dengan karya agung ini seluruh bangunan fisik akan dibersihkan secara sekala dan niskala, disucikan sesuai fungsinya sebagai tempat berstananya Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

“Sebelumnya ada beberapa pemugaran fisik Pura yang kami lakukan tahun 2014 mulai dari wantilan, bale gong, pewaregan, dan bale kulkul,” jelas Jro Bendesa Adat Kerobokan.
Kendati memugar beberapa bangunan fisik Pura, namun Desa Adat Kerobokan tidak serta merta merubah arsitektur kuno yang ada di Pura Desa lan Puseh. Ini menandakan Desa Adat Kerobokan tetap menjaga dan melestarikan benda fisik peninggalan leluhurnya.
“Ada kori agung yang tersurat tahun 1940 itu banyak kerusakannya tapi kami tidak bongkar kami lakukan restorasi sehingga wujudnya masih terlihat kuno,” sebutnya.
Puncak karya agung ini dipuput Ida Pedanda Gde Putra Tembau, Ida Pedanda Putra Telaga Sanur, Ida Pedanda Buda Gde Jelantik, Ida pedanda Gde Putra Telabah, dan Ida Rsi Agung Adnyana Telabah. Turut hadir saat puncak karya agung ini Panglingsir Puri Mengwi Anak Agung Gde Agung, serta Panglingsir Puri Pemecutan, Camat Kuta Utara, dan undangan lainnya.
Desa Adat Kerobokan merupakan wilayah desa adat yang tergolong cukup besar karena memiliki 50 banjar dengan jumlah KK 5.720 atau 28.921 jiwa. Dengan jumlah yang cukup besar itu ditambah mobilisasi penduduk yang terus bertambah, dibutuhkan perluasan areal tempat suci Kahyangan Tiga sehingga krama bisa lebih khusuk dan nyaman melaksanakan persembahyangan.

“Memang dilakukan beberapa perbaikan utamanya di madya dan utamaning mandala untuk bisa menampung jumlah krama yang terus bertambah termasuk Bale Agung setelah rampung mampu menampung 350 pratime dari Pura yang ada di wilayah Desa Adat Kerobokan,” ucap Manggala Karya.
Karya agung ini jelas AA Ngurah Gde Sujaya, mengusung tema “Gunaning Sarira Thirta Buana”. Yang artinya, umat manusia sebagai yang disebutkan adalah makhluk ciptaan Tuhan yang memiliki derajat tertinggi dari makhluk hidup lainnya karena memiliki tiga kekuatan atau potensi yakni bayu, sabda, dan idep. Ketiganya berfungsi dan berguna untuk menjaga dan memelihara kesucian, keutuhan Bhuana Agung dan Bhuana Alit dengan segala isinya demi keberlangsungan kehidupan semua makhluk hidup secara aman, damai, harmoni, sejahtera lahir batin sekala dan niskala.
“Sehingga diharapkan lewat pelaksanaan ritual suci yang kami persembahkan kepada ratu sesuhunan dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa akan terjadi keharmonisan alam semesta beserta isinya ,” harapnya.
Dalam puncak karya agung juga dipersembahkan tari Rejang dan Baris Gede. Seluruh rangkaian karya agung akan berakhir pada Soma Paing Merakih 9 September 2019 dan akan dipuput Ida Pedanda Gde Putra Bajing dan Ida Pedanda Gde Sari Arimbawa. (red)

