Categories Bali Berita Buleleng

Siwaratri Bukan Hanya Perenungan, Melainkan Momen Introspeksi Diri Umat Se-Dharma

Singaraja (Penabali.com) – Hari Suci Siwaratri, yang dikenal sebagai malam pemujaan Dewa Siwa, memiliki makna yang sangat mendalam dalam kehidupan spiritual umat Hindu di seluruh dunia, terkhusus di Bali dan Nusantara. Dalam perspektif filosofis, Siwaratri dipandang sebagai momentum suci untuk memperbaiki diri melalui perenungan, introspeksi, dan pengendalian diri.
Hal itu disampaikan oleh Akademisi Sekolah Tinggi Agama Hindu Negeri Mpu Kuturan Singaraja, Dr. I Made Bagus Andi Purnomo, M.Pd. Menurutnya,  Dalam kepercayaan agama Hindu, malam Siwaratri digunakan untuk bermeditasi, merenungi perjalanan hidup, dan mengintrospeksi perilaku. Hal ini mengajarkan pentingnya mengenali kekurangan dan potensi diri agar mampu menjalani kehidupan dengan lebih bijaksana.
Dirinya menyebut Siwaratri merupakan kesempatan untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat, baik secara sadar maupun tidak sadar. Melalui perenungan, seseorang diajak untuk jujur pada dirinya sendiri, mengevaluasi kesalahan, dan berkomitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik. “”Mengacu pada kisah Lubdaka dalam Siwaratri, generasi muda diingatkan untuk selalu memiliki harapan dan komitmen pada kebaikan, meskipun memiliki masa lalu yang kelam,”jelasnya.
Perayaan ini juga dapat dimaknai sebagai pendidikan karakter, mengajarkan nilai seperti tanggung jawab, kedisiplinan, dan keteguhan hati, yang sangat dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas era global saat ini. “Ini relevan dalam mendukung ‘mental health’ dan upaya bangkit dari kegagalan. Jadi, pelaksanaannya (Siwaratri)  bukan hanya pada ritus semata, tetapi lebih dalam dan kontemplatif lagi,” pungkasnya. (ika)