Sebagai pintu gerbang utama menuju Bali melalui jalur udara, Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai merupakan tempat pertama para wisatawan menginjakkan kakinya begitu tiba di Bali.
PT Angkasa Pura I (Persero) selaku pengelola salah satu bandar udara tersibuk di Indonesia berupaya untuk menghadirkan suasana khas Bali di dalam areal bandar udara, mulai dari arsitektur bangunan dan ornamen yang menghiasi bangunan gedung terminal, hingga atmosfer di dalam terminal yang kental dengan tradisi dan budaya Bali.
Berbagai kegiatan berupa pelestarian budaya Bali pun turut disuguhkan kepada para penumpang. Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai di penghujung bulan Oktober ini menghadirkan suatu pertunjukan seni kebudayaan Bali yang bertajuk, “Balinese Culture in Harmony”, yang menampilkan berbagai jenis tarian ditampilkan baik di Terminal Keberangkatan Domestik, maupun di Terminal Keberangkatan Internasional.
“Bersama Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, kali ini kami menghadirkan suatu pertunjukan kesenian berupa pementasan tari-tarian khas Bali. Tujuannya adalah yang pertama untuk memperkenalkan budaya Bali kepada para wisatawan, baik domestik maupun yang berasal dari mancanegara. Yang kedua adalah untuk semakin mempertegas nuansa dan atmosfer khas Bali di dalam terminal bandar udara,” ujar Co. General Manager Commercial PT Angkasa Pura I (Persero) Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Rahmat Adil Indrawan, Minggu (27/10) siang.
Sebelumnya alunan musik rindik sudah terlebih dahulu mengalun merdu di berbagai sudut terminal. Pertunjukan ini semakin menguatkan suasana terminal akan atmosfer khas Bali.
“Dengan ambience di dalam terminal yang kental dengan budaya Bali, akan memberikan suatu pengalaman tak terlupakan bagi para wisatawan. Hal tersebut yang akan menjadi salah satu faktor bagi para pelancong untuk datang kembali ke Bali,” imbuhnya.

Dalam event yang berlangsung dari tanggal 27-28 Oktober 2019 tersebut, disuguhkan satu tarian topeng kreasi yang bernama “Hyang Tri Semaya”. Tarian yang ditampilkan Sanggar Paripurna tersebut bercerita tentang kisah Sang Hyang Wisnu yang melihat ketidakwajaran di Mercapada. Ketentraman alam raya tengah terusik para raksasa Buta Kala Pisaca yang dipimpin Kala Ludra dan Dewi Durga. Melihat ketidakseimbangan di dunia tersebut, Hyang Tri Semaya, Brahma Wisnu Iswara kemudian turun ke dunia untuk membuat kesenian berupa seni tabuh dan seni tari yang diiringi para Genarwa. Sang Hyang Tri Semaya terbang ke segala penjuru dunia untuk menyebarkan kesenian, serta Dewa Wisnu yang turut menari Telek Brahma.
Berkat tarian dan bunyian tetabuhan yang diciptakan Sang Hyang Tri Semaya, Kala Ludra dan Dewi Durga berubah wujud kembali menjadi Dewa Siwa dan Dewi Uma, hingga akhirnya tercipta suatu harmoni.
“Tarian ini dimaknai sebagai suatu penciptaan harmoni di dunia. Di Bali sendiri, walaupun banyak dikunjungi oleh anak manusia dari berbagai kultur yang ada dunia, kebudayaan Bali tetap lestari dan berjalan beriringan. Di akhir Oktober ini bertepatan dengan perayaan Halloween yang dirayakan di negara-negara barat. Di Bali Airport, kami selaraskan perayaan Halloween di dalam bandar udara dengan pertunjukan kesenian Tari Hyang Tri Semaya ini, supaya keduanya dapat beriringan berjalan dalam memberikan pengalaman tak terlupakan bagi para penumpang yang tengah berada di bandar udara. Itulah makna harmoni,” tutur Rahmat Adil.
Sementara itu Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, I Wayan Adnyana, mendukung dan mengapresiasi terhadap inisiatif Bali Airport I Gusti Ngurah Rai terhadap kegiatan ini.
“Kami mengapresiasi inisiatif dari manajemen bandar udara dalam pelestarian seni dan kebudayaan Bali di Bandar Udara Internasional I Gusti Ngurah Rai. Sebagai pintu masuk wisatawan dari seluruh dunia, dengan dipentaskannya pertunjukan tarian ini akan semakin mengenalkan seni dan budaya Bali ke dunia,” ujarnya. (red)

