Togar Situmorang: Perlu Kajian Komprehensif Terapkan Wacana Pungutan 20 Dollar AS bagi Wisman

“Jalankan Pariwisata Bali yang Berkelanjutan”

 

Wacana pungutan 20 dollar AS kepada wisatawan asing yang datang ke Bali, mendapat tanggapan serius dari seorang pengamat kebijakan publik yang juga advokat, Togar Situmorang. Menurut pengacara yang kerap dijuluki ‘panglima hukum’ ini, hendaknya kebijakan ini dapat dikaji lebih dalam lagi. Ia khawatir, jika penerapan pungutan ini justru memberikan imbas negatif bagi pariwisata Bali.

“Pungutan 20 dolar ini akan membunuh pariwisata Bali. Secara perlahan Bali akan ditinggal turis asing karena banyak ada pungutan ini itu,” kritik Togar yang juga caleg DPRD Bali dapil Denpasar dari Partai Golkar nomor urut 7 ini saat ditemui di Denpasar, Jumat (14/12/2018).

Togar menambahkan, pemegang kebijakan di Bali harus berhati-hati sebelum menerapkan wacana tersebut. Karena hal itu dapat melemahkan citra pariwisata Bali dimata dunia. Dikatakan Togar, turis asing yang datang ke Bali harus siap-siap mengeluarkan uang ekstra. Setidaknya 20 dolar AS untuk penanganan sampah plastik dan pelestarian adat budaya Bali. Kedua jenis pungutan yang jika diterapkan bersamaan ini dinilai sangat memberatkan turis asing.

Maka Togar yang juga Dewan Pakar Forum Bela Negara ini lebih sepakat dengan hanya ada satu jenis pungutan sesuai yang diwacanakan Gubernur Koster yakni 10 dolar untuk pelestarian adat, seni dan budaya Bali. Namun dalam pemanfaatannya juga bisa dialokasikan untuk penanganan sampah khususnya di objek wisata di Bali.

“Pungutan 10 dolar untuk sampah itu tidak rasional. Ini memberatkan turis datang ke Bali. Mereka datang liburan untuk menikmati alam, keunikan seni, adat dan budaya Bali. Jadi penanganan sampah jangan dibebankan kepada turis,” kritik advokat nyentrik tapi dermawan ini.

Untuk itu, Togar berharap wacana dan rencana pungutan 10 dolar untuk sampah ini dihentikan agar tidak membebani wisatawan. Harus ada solusi lain yang lebih cerdas dari pemerintah untuk menangani sampah, bukan malah dengan membebankannya kepada wisatawan. Perlu hitungan yang matang dan kajian yang komprehensif jika penerapan ini diberlakukan. Seberapa imbas terhadap kunjungan wisatawan, dan seberapa sensitif wisatawan menerima wacana ini.

“Kita bicara quality tourism dan berkelanjutan. Ketika ada banyak pungutan, ketakutan kami justru pariwisata Bali tidak berkelanjutan. Turis asing bisa lari ke Thailand yang objeknya lebih menarik dari Bali dan juga bisa lebih murah,” jelas advokat murah senyum ini. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *