Denpasar (Penabali.com) – Upaya mengurangi timbunan sampah rumah tangga terus dilakukan melalui pengolahan sampah langsung dari sumbernya. Salah satunya dengan memanfaatkan mikroorganisme alami sebagai bahan pengurai dalam proses pembuatan kompos.
Metode tersebut diperkenalkan oleh akademisi Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa, Dr. I Nengah Muliarta, S.Si., M.Si., melalui Pelatihan pengomposan aerobik di TPS 3R Nirmala Saba, Kelurahan Penatih, Denpasar, Senin (2/11/2026) sore.
Kegiatan ini melibatkan anggota Karang Taruna Kelurahan Penatih serta pengelola TPS 3R. Pelatihan tersebut bertujuan memberikan pengetahuan dan keterampilan praktis kepada masyarakat, khususnya generasi muda, dalam mengolah sampah organik menjadi kompos.
Muliarta menjelaskan, penggunaan dekomposer alami menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi ketergantungan terhadap aktivator komersial yang membutuhkan biaya operasional. Mikroorganisme lokal dinilai memiliki kemampuan beradaptasi dengan kondisi lingkungan setempat sehingga dapat dimanfaatkan dalam proses penguraian sampah organik.
“Penggunaan dekomposer lokal atau mikroorganisme alami menawarkan keunggulan berupa daya adaptasi fisiologis yang luar biasa terhadap fluktuasi iklim serta efisiensi biaya bagi masyarakat,” ujar Muliarta.
Menurutnya, penerapan metode tersebut diharapkan dapat membantu pengelola TPS 3R menjalankan proses pengomposan secara lebih mandiri dengan memanfaatkan bahan-bahan yang tersedia di lingkungan sekitar.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengelola TPS 3R Nirmala Saba Desa Adat Penatih Puri, I Made Dwiyita Wrhaspati, menyambut baik pelatihan tersebut. Ia menilai metode yang diperkenalkan memberikan tambahan pengetahuan bagi pengelola dalam menjalankan kegiatan pengolahan sampah sehari-hari.
“Dari proses pelatihan yang diberikan, proses pengomposan ini terasa lebih mudah. Tentu kami berharap sampah organik ini bisa lebih cepat jadi kompos,” kata Dwiyita.
Ia juga menilai keterlibatan Karang Taruna menjadi langkah penting untuk mendorong regenerasi pengelola sampah. Terlebih, perkembangan kawasan permukiman di Penatih berpotensi diikuti peningkatan jumlah sampah rumah tangga.
Karena itu, Dwiyita berharap masyarakat semakin terbiasa memilah sampah sejak dari rumah. Pemilahan tersebut dinilai dapat mempermudah proses pengolahan di TPS 3R sekaligus mengurangi sampah yang harus ditangani oleh pengelola.
“Keterlibatan pemuda harapannya ke depan membuat pengelolaan sampah organik menjadi lebih baik. Apalagi jumlah sampah akan terus meningkat seiring dengan adanya permukiman baru. Kami berharap masyarakat bisa melakukan pemilahan sehingga pengelolaannya menjadi lebih mudah,” ujarnya.
Dwiyita turut mengapresiasi keterlibatan perguruan tinggi dalam memberikan pendampingan kepada masyarakat. Ia berharap kegiatan tersebut dapat berlanjut sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan selama pelatihan, tetapi juga diterapkan dalam operasional pengolahan sampah.
Dalam pelatihan tersebut, peserta diperkenalkan dengan metode Tambahan Dekomposer Alami (TDA) secara insitu. Proses pengomposan dilakukan menggunakan wadah berbentuk kotak dari bambu yang ditempatkan di atas gundukan tanah. Penempatan ini bertujuan menghindari genangan air hujan sekaligus menjaga sirkulasi udara selama proses penguraian.
Sampah organik kemudian disusun secara berlapis dengan bahan dekomposer alami, seperti kotoran ternak, tanah humus, atau kompos yang telah matang. Pengaturan kelembapan dan sirkulasi udara menjadi bagian penting agar proses pengomposan aerobik dapat berlangsung dengan baik.
Melalui metode tersebut, proses penguraian diperkirakan membutuhkan waktu sekitar 30 hingga 35 hari. Kompos yang dihasilkan ditandai dengan tekstur remah, warna hitam, serta aroma menyerupai tanah.
Pengolahan sampah organik melalui metode ini diharapkan dapat mengurangi volume sampah yang dibuang ke tempat pemrosesan akhir (TPA). Selain itu, hasil pengomposan juga berpotensi dimanfaatkan untuk mendukung kegiatan pertanian dan penghijauan di lingkungan masyarakat.
Dwiyita berharap pendampingan dari perguruan tinggi dapat terus dilakukan melalui kerja sama dengan pengelola TPS 3R dan kelompok masyarakat. Menurutnya, dukungan berbagai pihak diperlukan agar pengolahan sampah berbasis sumber dapat berjalan secara berkelanjutan.
“Mudah-mudahan proses ini dapat berkelanjutan dari pelatihan dan pendampingan yang diberikan, karena kami sangat membutuhkan dukungan semua pihak,” ungkapnya.
Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari Program Aksara Mahasiswa Berdampak yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek).
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, mahasiswa, pengelola TPS 3R, dan Karang Taruna, program tersebut diarahkan untuk mendorong keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sampah organik. Pemanfaatan hasil kompos juga diharapkan dapat mendukung penerapan pertanian berkelanjutan dengan pendekatan Low External Input and Sustainable Agriculture (LEISA). (rls)

