Bade Pelebon Raja Denpasar IX Diletakkan di Perempatan Patung Catur Muka, Begini Penjelasan Puri Agung Denpasar

Denpasar, Upakara254 Views

Denpasar (Penabali.com) – Karya Pelebon Nyawa Ngasti Wedana Ida Tjokorda Ngurah Jambe Pemecutan (Raja Denpasar IX) akan dilaksanakan Rabu, 21 Juni 2023. Seluruh rangkaian prosesnya dipusatkan di Puri Agung Denpasar.

Sementara bade atau tempat jenazah, tragtag atau tangga, dan lembu putih, ditempatkan di catus pata perempatan Patung Catur Muka, Denpasar, yang lokasinya cukup berjauhan dari Puri Agung Denpasar.

Perwakilan Puri Agung Denpasar sekaligus Manggala Karya Pelebon Raja Denpasar IX, dr. Anak Agung Ngurah Gde Dharmayuda, M.Kes., menjelaskan mengapa bade ditempatkan jauh dari Puri Agung Denpasar.

dr. Agung Dharmayuda mengatakan bahwa wilayah Puri Agung Denpasar awalnya dari perempatan Patung Catur Muka ke perempatan Jalan Durian hingga ke timur di Jalan Kaliiasem.

“Konon dulu Puri Denpasar adalah puri termegah se-Bali,” kata dr. Agung Dharmayuda dalam keterangan persnya yang diselenggarakan Perkumpulan Pencinta Pariwisata Indonesia (P3I), bertempat di Inna Bali Heritage Jalan Veteran, Denpasar, Selasa (20/6/2023).

Namun, saat Perang Puputan Badung tahun 1906, bangunan Puri Denpasar hancur rata dengan tanah. Inna Bali Heritage saat ini berdiri merupakan sebagian wilayah dari Puri Denpasar.

Didampingi perwakilan Puri Agung Denpasar lainnya yakni A.A. Amertajaya, dan cucu pertama Raja Denpasar IX, A.A. Ngurah Gede Agung Wirasatria, dr. Agung Dharmayuda mengungkapkan penempatan uperangga berupa bade, lembu, dan tragtag di perempatan Patung Catur Muka merupakan lokasi utama Puri Denpasar. Karena itu, keluarga besar Puri Agung Denpasar pada karya pelebon ini sepakat untuk menjaga tatanan-tatanan puri warisan budaya yang tidak boleh dilupakan. Bahwa Puri Denpasar dulunya berada di catus pata perempatan Catur Muka, dekat dengan alun-alun.

“Itulah yang mengajarkan kita bersama mengapa badenya ada di Catur Muka dan layonnya di Puri Agung Denpasar saat ini,” ujar dr. Agung Dharmayuda yang juga keponakan Raja Denpasar IX.

Ia mengungkapkan, Puri Agung Denpasar saat ini sejatinya merupakan jaba Pura Pedarman Satria yang tahun 1934 baru dibangunkan oleh Belanda ada pendopo dan kori depan untuk mengembalikan warih puri Ida Tjokorda Alit Ngurah yang dulunya beliau ketika masa kecil dibuang ke Lombok selama 30 tahun. Sekembalinya beliau ke Bali utamanya Denpasar, beliau dinobatkan sebagai raja di Besakih bersama dengan raja-raja yang lain dan diberikan gelar Ida Tjokorda Ngurah Alit Jambe Pemecutan.

“Beliau diangkat raja tahun 1963,” ucap dr. Agung Dharmayuda.

Karya pelebon ini merupakan warisan budaya tatanan puri bahwa letak puri sangat menentukan yaitu perempatan agung dimana di depan puri ada alun-alun. Namun pada Karya Pelebon Raja Denpasar IX ini, seluruh rangkaian upacaranya tetap berjalan dari Puri Agung Denpasar. (red)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *