Singaraja ( Penabali.com) – BRI Branch Office Singaraja menggelar pelatihan evakuasi gempa bersama BPBD Buleleng sebagai langkah preventif untuk mencegah kepanikan pegawai saat menghadapi potensi bencana, Senin (27/4). Kegiatan ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan internal guna menjaga keselamatan karyawan, nasabah, serta memastikan operasional perbankan tetap berjalan dalam kondisi darurat.
Pelatihan yang berlangsung di halaman Kantor BRI Cabang Singaraja tersebut diikuti seluruh pegawai, termasuk petugas keamanan. Mereka mendapatkan pembekalan terkait prosedur dasar penyelamatan diri saat gempa bumi, mulai dari teknik drop, cover, and hold on hingga mekanisme evakuasi menuju titik aman.
Pimpinan BRI Branch Office Singaraja, Mardian Salam Tarigan, mengatakan simulasi ini merupakan bagian dari penerapan Business Continuity Management (BCM) yang bertujuan meningkatkan kesiapan sumber daya manusia dalam menghadapi berbagai kemungkinan gangguan, baik akibat bencana alam maupun kondisi operasional lainnya.
Menurutnya, pelatihan tersebut penting untuk meminimalisasi risiko kepanikan dan memperkuat respons cepat pegawai saat terjadi situasi darurat.
“Sehingga ketika bencana benar-benar terjadi, para pegawai sudah paham bagaimana melakukan prosedur evakuasi, koordinasi antarunit, serta langkah-langkah pemulihan operasional secara cepat dan tepat. Termasuk menjaga keselamatan nasabah yang sedang bertransaksi di kantor,” ujarnya.
Ia menambahkan, selain memperkuat kapasitas pegawai melalui pelatihan, BRI juga telah melengkapi fasilitas kantor dengan alarm kebakaran dan sistem pendukung lainnya sebagai bentuk antisipasi dini terhadap berbagai potensi bencana.
“Kami juga sudah memiliki alarm kebakaran, baik di kantor cabang maupun unit-unit BRI, sebagai langkah antisipasi,” imbuhnya.
Sementara itu, Operator Layanan Operasional BPBD Buleleng, Agus Dharma Wijaya, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan agenda rutin tahunan yang dilakukan berdasarkan permintaan pihak BRI sebagai bentuk kolaborasi dalam peningkatan mitigasi bencana.
“Setiap tahun kami melaksanakan simulasi ini berdasarkan permintaan dari pihak BRI. Tim Posko BPBD memberikan pendampingan terkait penanganan gempa bumi,” jelasnya.
Agus menekankan pentingnya pelatihan semacam ini dilakukan secara berkelanjutan, terutama di lingkungan kerja dengan dinamika pergantian pegawai yang cukup tinggi. Dengan demikian, setiap personel baru dapat memahami prosedur tanggap darurat secara menyeluruh.
“Upaya ini diharapkan mampu membangun budaya kesiapsiagaan yang lebih kuat, sehingga risiko korban maupun gangguan operasional saat bencana dapat diminimalisasi,”tutupnya. (ika)

