Forum 27-an, Ajang Perkuat Restorasi dan Konservasi Perlindungan Hutan

Forum 27-an, Ajang Perkuat Restorasi dan Konservasi Perlindungan Hutan

Forum 27-an di Jebor Hall, Jatiwangi art Factory. (foto: ist.)

Majalengka (Penabali.com) – Berkolaborasi dengan empat organisasi lainnya yakni Hutan Itu Indonesia, Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari, Development Dialogue Asia, dan Restor, Forum 27-an yang biasa diselenggarakan setiap bulannya oleh Jatiwangi art Factory, kali ini mengambil tema berbeda dari sebelumnya.

Tema kali ini adalah ‘Gandeng Tangan Jaga Hutan Indonesia.’ Dengan mengumpulkan organisasi restorasi dan konservasi hutan di Indonesia, kegiatan berlangsung secara hybrid dengan kegiatan offline, bertempat di Jebor Hall, Jatiwangi art Factory dan secara daring melalui Zoom, Sabtu (30/7/2022).

Christian Natalie, Manajer Program Hutan Itu Indonesia, dalam paparannya menyebutkan lewat lingkar diskusi Forum 27-an ini diharapkan masing-masing organisasi yang turut serta dapat menjadi jembatan satu sama lain dalam memberikan peranan yang berkelanjutan untuk pergerakan membangun partisipasi publik yang masif bagi perlindungan hutan Indonesia.

Tujuan lingkar diskusi Forum 27-an untuk mendokumentasikan praktik konservasi dan restorasi hutan berbasis partisipasi publik, sekaligus mempererat inisiatif yang sudah ada dalam perlindungan ekosistem hutan yang telah dilakukan masing-masing organisasi yang terlibat dengan berbagai skema yang dimilikinya. Seperti Perhutana (Perusahaan Hutan Tanaraya), inisiasi yang dibangun oleh Jatiwangi art Factory sebagai salah satu contoh langkah kolektif partisipasi publik menumbuhkan hutan baru seluas 8 hektar di kawasan Jatiwangi. Inisiasi ini tak lain berangkat dari kekhawatiran arus industrialisasi di kawasan wilayah Majalengka sekitarnya.

Ramalis Sobandi, Ketua Yayasan Pilar Tunas Nusa Lestari, juga menambahkan.

“Bagi kami ini adalah satu pengalaman baru dan berharga, sebagai organisasi yang berbasis penelitian perkotaan dan urbanisasi yang tidak memiliki latar belakang kehutanan mengambil peran sebagai jembatan yang menghubungkan aktor akademisi, bisnis, komunitas, pemerintah dan media untuk sama-sama mengembangkan inovasi yang menjawab keresahan akibat kecepatan urbanisasi yang dirasakan kurang adil dan belum memberikan ruang untuk kelestarian,” ulasnya.

“Perhutana sebagai contoh yang kami anggap sebagai suatu gerakan gotong royong yang berkeadilan dan mengusung kepentingan bersama untuk menjaga kelestarian bagi alam dan manusia,” tutup Ramalis.

Sebagai informasi, Forum 27-an diikuti lebih dari 20 organisasi konservasi dan restorasi di Indonesia. Forum 27-an ini bisa menjadi ajang dalam mentransfer pengetahuan serta peranan yang sudah dilakukan oleh masing-masing lembaga dalam memperkuat metode praktik restorasi dan konservasi yang dimiliki masing-masing organisasi, sehingga tujuan utama perlindungan hutan di Indonesia dapat dilakukan secara gotong royong dan berkelanjutan.

Local Lead RESTOR, Annisa Satwika, mengatakan RESTOR dapat menjadi jembatan (hub) bagi organisasi, pemerintah, maupun gerakan masyarakat dalam menunjukkan usaha atau aksi yang sudah dilakukan yang berhubungan dengan restorasi alam seperti penanaman, dan konservasi hutan, dan melalui momen diskusi Forum 27-an ini diharapkan bisa membangun sinergisitas bersama antar organisasi karena aksi restorasi maupun perlindungan hutan lebih baik dilakukan secara gotong royong.

Selain diskusi, Forum 27-an juga menghadirkan pameran inovasi penjagaan hutan secara daring yang dapat diakses melalui http://bit.ly/pameranadopsihutan, diikuti 13 organisasi, yakni Bappeda Jabar, Carbon Ethics, Forum Konservasi Leuser, Hutan itu Indonesia, KKI Warsi, Lindungi Hutan, Perhutana, Restor, Rimba Raya, Trees4Trees, WeCare, WRI Indonesia, dan Yayasan ASRI. (rls)

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published.