Categories Bali Denpasar Inovasi

Inovasi Mahasiswa KKN PPM Unwar Menyulap Limbah Kulit Kopi dan Rumput Gajah Menjadi Nutrisi Pakan Premium Sapi Potong

Denpasar (Penabali.com) – Inovasi di bidang pengolahan pakan ternak mulai memberi solusi nyata bagi peternak rakyat yang selama ini dihadapkan pada persoalan klasik, mulai dari keterbatasan waktu hingga kualitas nutrisi pakan yang belum optimal. Melalui teknologi fermentasi, bahan pakan konvensional seperti rumput gajah dan limbah kulit kopi kini dapat diolah menjadi pakan bernilai gizi lebih tinggi serta dapat disimpan dalam jangka waktu lebih lama.

Pendekatan ini dinilai penting untuk mendukung ketersediaan pakan secara berkelanjutan, terutama ketika peternak memiliki aktivitas lain di luar kandang atau saat pasokan hijauan menurun pada musim kemarau.

Dosen pembimbing KKN PPM Universitas Warmadewa (Unwar), Ir. I Nyoman Kaca, M.Si, mengatakan teknologi fermentasi pakan pada dasarnya dirancang untuk mengurangi ketergantungan peternak pada kebiasaan mencari rumput setiap hari atau yang dikenal dengan istilah “ngarit”.

Menurutnya, banyak peternak rakyat saat ini juga bekerja sebagai tenaga harian, sehingga waktu untuk menyiapkan pakan ternak kerap terbatas.

“Fermentasi ini membantu petani ternak menyediakan pakan secara berkelanjutan. Pakan hasil olahan ini bisa disimpan lama dan diberikan kapan saja sesuai waktu luang peternak,” ujar Nyoman Kaca saat dikonfirmasi di Denpasar, Senin (2/3/2026).

Ia menjelaskan, saat produksi hijauan melimpah, peternak perlu didorong untuk memanfaatkan momentum tersebut dengan mengolah pakan menjadi cadangan. Langkah ini dinilai strategis agar stok tetap tersedia ketika pasokan mulai berkurang.

Secara teknis, teknologi fermentasi ini bekerja melalui proses biokimia dengan bantuan mikroorganisme. Dalam proses tersebut, fermentor yang mengandung bakteri lignolitik dan lignoselulolitik digunakan untuk membantu menurunkan kadar serat kasar pada bahan pakan, yang selama ini menjadi salah satu kendala utama dalam pencernaan sapi.

Melalui proses fermentasi, senyawa kompleks seperti karbohidrat, lemak, dan protein dipecah menjadi bentuk yang lebih sederhana, sehingga lebih mudah diserap oleh tubuh ternak. Kondisi ini dinilai dapat meningkatkan kualitas nutrisi pakan secara signifikan.

Penerapan teknologi tersebut telah dilakukan kepada dua kelompok peternak, yakni Kelompok Ternak Sapi Ngudi Raharjo 1 yang beranggotakan 31 orang dan Ngudi Raharjo 2 dengan 20 anggota. Dalam kegiatan KKN PPM Unwar, para peternak mendapatkan pendampingan langsung terkait proses pembuatan pakan fermentasi, mulai dari pencacahan rumput gajah hingga pencampuran bahan pendukung.

Dalam praktiknya, rumput gajah dicacah dengan ukuran sekitar lima sentimeter, kemudian dicampur dengan dedak padi dan molases atau tetes tebu. Bahan terakhir ini disebut memiliki peran penting, baik sebagai pengawet alami maupun sebagai sumber energi bagi mikroba selama proses fermentasi berlangsung.

Nyoman Kaca menjelaskan, fermentasi dilakukan dalam wadah tertutup rapat atau dalam kondisi anaerob. Tahapan ini penting untuk mencegah terjadinya oksidasi dan pembusukan yang dapat menurunkan mutu pakan.

Setelah disimpan selama kurang lebih tiga minggu, pakan fermentasi akan menghasilkan aroma khas asam manis menyerupai tape. Aroma tersebut disebut mampu meningkatkan palatabilitas atau tingkat kesukaan ternak terhadap pakan, sehingga konsumsi pakan menjadi lebih optimal.

Tak hanya berdampak pada peningkatan nilai nutrisi, teknologi ini juga dinilai memberi manfaat dari sisi kesehatan ternak. Lingkungan asam yang terbentuk selama proses fermentasi dapat menekan pertumbuhan bakteri patogen, sehingga membantu menurunkan risiko penyakit pada ternak sapi.

Keberhasilan penerapan teknologi ini terlihat dari respons ternak yang disebut lebih lahap saat diberi pakan fermentasi. Strategi pemberian pakan pada pagi hari, sebelum hijauan segar, juga dinilai mendukung kerja sistem pencernaan mikroba dalam tubuh sapi agar lebih efektif.

Secara keseluruhan, inovasi fermentasi pakan tidak hanya berkontribusi pada peningkatan kualitas gizi ternak, tetapi juga membantu peternak mengelola waktu secara lebih efisien. Dengan ketersediaan pakan yang lebih terjamin, peternak memiliki ruang lebih besar untuk menjalankan aktivitas ekonomi lain tanpa harus khawatir terhadap stok pakan harian. (rls)