Kebijakan VoA dan Bebas Karantina, Dekan FPar Unud: Harapan Baru Pariwisata Bali

Kebijakan VoA dan Bebas Karantina, Dekan FPar Unud: Harapan Baru Pariwisata Bali

Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Dr. I Wayan Suardana SST.Par., M.Par. (foto: ist.)

Denpasar (Penabali.com) – Kebijakan pemerintah untuk membuka kembali akses masuk Bali melalui kebijakan visa on arrival (VOA) dan uji coba bebas karantina bagi pelaku perjalanan luar negeri mendapat sambutan positif dari berbagai pihak. Kebijakan itu dinilai sebagai angin segar bagi neraca pariwisata Bali yang sempat terjun bebas selama pandemi ini.

Akademisi sekaligus Dekan Fakultas Pariwisata Universitas Udayana (Unud), Dr. I Wayan Suardana SST.Par., M.Par., mengatakan kebijakan ini merupakan harapan baru bagi pariwisata Bali.

“Bali sebagai destinasi dunia sudah sangat tergantung dengan wisatawan mancanegara, sehingga hal ini menjadi informasi yang baik bagi pariwisata Bali,” ujar Suardana.

Dibukanya pintu untuk wisatawan mancanegara akan memberikan peluang besar bagi wisatawan untuk menjadwalkan kembali rencana kunjungannya yang sempat tertunda lama. Walaupun pasti kondisi ini tidak serta merta dapat langsung meningkatkan jumlah kunjungan seperti sebelum landemi. Efek dari pandemi tidak hanya menahan wisatawan untuk berwisata tetapi juga menurunkan perekonomian dan daya beli masyarakat dunia. Hal ini akan sangat berdampak pada pilihan keputusan wisatawan dalam berkunjung.

Berdasarkan data, ekonomi dunia diperkirakan tumbuh rata-rata sekitar 3,2 persen, sedikit di bawah rata-rata 3,5 persen pada periode 2010-2019. Sementara untuk Indonesia, average propensity to consume ratio pada bulan Januari 2022 sebesar 74,1%, atau turun tipis dari 76,2% pada bulan Desember 2021 (Bank Indonesia dalam data Portal Indonesia, 2022),” jelas Suardana, Jumat (11/3/2022).

Suardana mengatakan Bali sudah dalam kondisi siap untuk menerima wisatawan.

“Bali dengan berbagai infrastruktur dan fasilitas pendukungnya yang selama 2 tahun dapat melakukan pembenahan dan perbaikan pada berbagai hal, sepert fasilitas layanan di bandara yang lebih baik, di destinasi dengan kelengkapan CHSE, dan lain-lain. Dengan berbagai infrastruktur dan SDM yang dimiliki, saya kira Bali sangat siap untuk menerima wisatawan ini. Bahkan mungkin saat ini ada kerinduan yang sangat mendalam dari pelaku dan wisatawan terhadap Bali itu sendiri. Ini bisa dijadikan momen bagi Bali untuk menciptakan image Bali yang terpercaya dan tangguh dari aspek kesehatan,” katanya.

Untuk itu, Suardana mengingatkan pemerintah agar mulai menyiapkan strategi pemasaran yang efektif terutama untuk menyasar pasar yang terkait dengan perhelatan atau event.

“Pariwisata dunia saat ini tidak hanya dibatasi oleh faktor administrasi dalam perjalanan, tetapi ada faktor ekonomi yang membuat wisatawan akan selektif memutuskan tujuan kunjungan. Untuk itu pemerintah benar-benar harus bisa membuat branding Bali sebagai destinasi yang sehat dan ramah. Pemerintah juga harus menyasar pasar dengan aktivitas event yang terjadwal, sehingga ada subsidi pemerintah asal negara wisatawan untuk mendorong mereka berkunjung, seperti MICE, Sport Tourism, dan lain-lain. Momen Conference G20 sangat penting diperhatikan dan dijadikan momen bangkitnya Pariwisata Bali,” jelasnya.

Terkait dengan pertanyaan publik, mengenai kapan estimasi waktu yang dibutuhkan bagi Bali untuk memulihkan sektor pariwisata, Suardana menegaskan banyak faktor yang harus dinilai, sehingga tidak bisa diprediksi dengan akurat.

“Waktu saya kira tidak bisa kita ukur dari satu faktor. Pariwisata sangat ditentukan oleh berbagai faktor baik internal maupun eksternal, selain faktor kesehatan dan ekonomi tadi. Saat ini dunia juga dihantui oleh adanya perang Rusia dengan Ukraina. Hal ini berdampak pada kecemasan dunia pada berbagai aspek. Kalau faktor tersebut nanti tidak beranjut terlalu lama, saya kira sangat optimis Bali cepat bisa recovery.

Suardana mengatakan bahwa beberapa indikator seperti ekonomi, vaksinasi dan keamanan menjadi tolok ukur penting.

“Seperti tadi pariwisata sangat tergantung dari lingkungan internal dan ekternal secara makro. Faktor ekonomi pasti menjadi ukuran utama, pendapatan per kapita masyarakat dunia, adanya kemudahan, dan kepastian kesehatan khusunya kesadraan vaksinasi di destinasi tersebut. Karena ini menjadi kunci dalam peningkatan imunity masyarakat. Selain itu faktor keamanan juga penting. Kita harapkan situasi perang Rusia dengan Ukraina tidak menjadi masalah global yang semakin serius,” imbuhnya.

Menurutnya, tantangan Bali saat ini adalah dukungan masyarakat untuk memberikan jaminan bagi wisatawan bahwa Bali aman dari aspek kesehatan.

“Tantangan yang paling berat adalah penyadaran masyarakat dalam menciptakan Bali sebagai destinasi wisata yang sehat. Sehingga tidak ada beban dalam kesehatan. Bali semakin bisa melakukan pengelolan yang baik sebagai destinasi wisata yang berkelanjutan,” ungkapnya.

Surdana mengingatkan bahwa pandemi ini harus dijadikan pelajaran bagi Bali untuk tidak hanya bertumpu pada indsutri pariwisata dan pergerakan wisatawan mancanegara.

“Saya kira Bali juga harus segera mencari berbagai alternatif sinergi antara sektor pariwisata dengan sector lainnya seperti pertanian, bahari, dan lain lain. Kerapuhan pariwisata menjadi tantangan tersendiri bagi Bali ke depan,” tambahnya. (rls)

Sumber: http://www.unud.ac.id

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published.