TABANAN (Penabali.com) – FOTO Bali Festival 2026 tidak hanya hadir sebagai ajang pameran fotografi internasional, tetapi juga menjadi wadah kolaborasi yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan dalam upaya memperkuat ekosistem fotografi dan budaya visual di Indonesia.
Festival yang digelar di Nuanu Creative City, Tabanan, sejak 3 Juni hingga 12 Juli 2026 tersebut mengusung pendekatan yang lebih luas dibanding sekadar pameran karya. Melalui berbagai program yang melibatkan institusi pendidikan, komunitas kreatif, hingga sektor publik dan swasta, festival ini berupaya menciptakan ruang yang mendukung perkembangan para praktisi fotografi secara berkelanjutan.
CEO Nuanu Creative City, Lev Kroll, mengatakan FOTO Bali Festival menjadi tempat bertemunya berbagai perspektif dan gagasan dari latar belakang yang berbeda. Menurutnya, kolaborasi yang terbangun selama festival berlangsung menunjukkan bagaimana kreativitas dapat berkembang melalui dukungan berbagai pihak.
Memasuki penyelenggaraan tahun kedua, FOTO Bali Festival mengangkat tema “AFTERIMAGE” yang dikurasi oleh Kurniadi Widodo dan Putu Sridiniari. Festival ini menghadirkan 38 seniman dari 24 negara melalui beragam program, mulai dari pameran, photobook, karya multimedia, diskusi, lokakarya, pemutaran film, hingga program publik.
Penguatan ekosistem kreatif dalam festival tahun ini diwujudkan melalui kerja sama dengan MTN Seni Budaya, Institut Seni Indonesia (ISI) Bali, dan Bali Motion Club. Ketiga mitra tersebut menghadirkan berbagai program yang melibatkan lebih dari 58 seniman dan praktisi Indonesia.
Kolaborasi bersama MTN Seni Budaya menghadirkan pameran “LIGHTS IN FRAME” yang menampilkan karya 23 seniman alumni MTN Lab 2025 dari berbagai daerah di Indonesia. Beragam karya yang dipamerkan mengeksplorasi isu sosial, memori personal, arsip, komunitas, hingga kehidupan sehari-hari melalui medium fotografi, video, instalasi, dan multimedia.
Pameran tersebut menunjukkan perkembangan praktik fotografi kontemporer yang kini tidak hanya berfungsi sebagai sarana menghasilkan gambar, tetapi juga sebagai medium untuk merekam, menginterpretasikan, dan memahami realitas sosial yang berkembang di masyarakat.
Sementara itu, kerja sama dengan ISI Bali melibatkan 21 seniman dan akademisi dalam sejumlah program festival. Kolaborasi ini membuka kesempatan bagi mahasiswa dan seniman muda untuk menampilkan karya, berdialog dengan kurator serta praktisi, sekaligus memperluas jaringan di tingkat nasional maupun internasional.
In-house Curator ISI Bali, Farhan Adityasmara, menilai keterlibatan kampus dalam festival internasional tersebut menjadi sarana penting untuk memperkuat implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi melalui penciptaan karya seni dan pengabdian kepada masyarakat. Selain itu, partisipasi mahasiswa sebagai kurator maupun pembicara turut membuka peluang kolaborasi riset dan pertukaran pengetahuan dengan berbagai pihak dari mancanegara.
Di sisi lain, Bali Motion Club menghadirkan program “The Voyager”, sebuah presentasi berbasis dome yang melibatkan 14 seniman. Program ini menawarkan pengalaman visual yang lebih imersif dengan memadukan fotografi, gambar bergerak, musik, dan pendekatan eksperimental.
Founder Bali Motion Club, Andyo Aryoga, menyebut kolaborasi tersebut sebagai pencapaian yang telah lama diimpikan komunitasnya. Ia mengatakan gagasan menghadirkan The Voyager telah dirancang sejak 2024 dan akhirnya dapat direalisasikan dalam FOTO Bali Festival 2026.
Selain pameran, festival juga menyelenggarakan berbagai lokakarya dan diskusi yang menghadirkan sejumlah praktisi fotografi dan budaya visual. Program ini dirancang untuk memperluas pertukaran pengetahuan sekaligus mempertemukan talenta muda dengan mentor berpengalaman.
Festival Director FOTO Bali Festival, Kelsang Dolma, menegaskan bahwa perkembangan fotografi tidak hanya bergantung pada ruang pamer, tetapi juga memerlukan dukungan berkelanjutan berupa pendidikan, komunitas, institusi, dan jejaring yang dapat mendukung para seniman dalam jangka panjang.
Menurutnya, festival bukan hanya tentang karya yang dipamerkan, melainkan juga tentang proses belajar, diskusi, serta hubungan yang terbangun di antara para pelaku seni dan masyarakat.
Melalui kolaborasi dengan berbagai mitra, FOTO Bali Festival 2026 menunjukkan bagaimana sinergi antara sektor publik, institusi pendidikan, komunitas independen, dan sektor swasta dapat memperkuat ekosistem budaya yang berkelanjutan. Di saat yang sama, Nuanu Creative City terus mempertegas perannya sebagai ruang yang mendorong pertumbuhan seni dan budaya melalui pembangunan jaringan, akses publik, serta pertukaran pengetahuan bagi para pelaku industri kreatif.
FOTO Bali Festival 2026 berlangsung di Nuanu Creative City, Tabanan, Bali, dan mendapat dukungan dari berbagai mitra di bidang pendidikan, budaya, perhotelan, serta industri kreatif. Festival ini menjadi salah satu ruang pertemuan penting bagi seniman, kurator, akademisi, komunitas, dan masyarakat dalam mengembangkan praktik fotografi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

