SEMARAPURA – Di tengah tantangan ketersediaan bahan baku dan keterbatasan tenaga kerja, usaha pembuatan tedung atau payung upacara khas Bali di Desa Paksebali, Kabupaten Klungkung, masih mampu bertahan dan terus berkembang. Tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun ini tidak hanya menjaga nilai budaya, tetapi juga menjadi sumber penghidupan bagi masyarakat setempat.
Salah satu perajin tedung di kawasan Puri Satria Kanginan, Anak Agung Gede Anom Suwastika, menuturkan bahwa keterampilannya membuat tedung telah diperoleh sejak kecil dari keluarganya. Setelah mengakhiri karier di sektor perhotelan beberapa tahun lalu, ia memutuskan kembali menekuni usaha keluarga yang telah dirintis oleh ibunya.
Menurut Suwastika, aktivitas produksi saat ini lebih banyak difokuskan pada proses menjahit dan merangkai tedung, sementara beberapa komponen bahan baku dan rangka telah disiapkan oleh pekerja lainnya. Dalam kondisi normal, ia mampu menghasilkan sekitar 20 unit tedung berukuran satu meter setiap hari.
Namun menjelang hari-hari besar keagamaan Hindu seperti Hari Raya Galungan dan Kuningan, permintaan mengalami peningkatan signifikan. Produksi harian bahkan dapat mencapai 40 hingga 50 unit untuk memenuhi kebutuhan pasar.
“Ketika mendekati hari raya, permintaan biasanya meningkat tajam. Tantangan terbesar justru pada ketersediaan bahan baku yang kadang sulit diperoleh,” ujarnya.
Tedung yang diproduksi tersedia dalam berbagai ukuran, mulai dari 90 sentimeter hingga 1,25 meter. Produk berukuran satu meter dengan kualitas halus menjadi pilihan yang paling banyak dicari konsumen. Selain model standar, perajin juga melayani pembuatan tedung agung dengan ornamen yang lebih kompleks dan pengerjaan yang membutuhkan keahlian khusus.
Pasar utama produk tersebut mencakup sejumlah pasar tradisional di wilayah Denpasar, seperti Pasar Sanglah, Pasar Kreneng, hingga Pasar Kumbasari. Dalam periode normal, pesanan dapat mencapai sekitar 200 unit setiap dua hingga tiga minggu. Jumlah tersebut biasanya meningkat hingga dua kali lipat saat memasuki musim hari raya.
Meski prospek pasar masih menjanjikan, para perajin menghadapi tantangan dalam memperoleh bahan baku, terutama kayu dan bambu yang digunakan sebagai rangka tedung. Bahan kayu umumnya berasal dari pohon buah seperti durian dan wani. Kondisi cuaca, khususnya saat musim hujan, turut memengaruhi ketersediaan material tersebut.
Di kawasan Paksebali sendiri, usaha pembuatan tedung menjadi salah satu aktivitas ekonomi yang cukup berkembang. Sekitar 20 pelaku usaha diketahui tergabung dalam Klaster Tedung Paksebali. Selain memproduksi tedung, sebagian masyarakat juga mengerjakan berbagai perlengkapan upacara adat lainnya seperti prada dan ider-ider.
Untuk menjaga kelancaran produksi dan ketersediaan stok bahan baku, Suwastika memanfaatkan fasilitas Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang diperolehnya melalui BRI. Dana tersebut digunakan sebagai modal kerja untuk membeli bahan baku sebelum hasil penjualan kembali diputar dalam proses produksi berikutnya.
Selain dukungan permodalan, pemanfaatan layanan digital perbankan juga mulai menjadi bagian penting dalam operasional usaha. Saat ini, sebagian besar transaksi dengan pelanggan dilakukan secara non-tunai melalui aplikasi BRImo.
Suwastika mengungkapkan, sistem pembayaran digital memberikan kemudahan baik bagi pelaku usaha maupun pelanggan, terutama untuk transaksi pemesanan yang dilakukan secara bertahap sebelum barang dikirim.
Sementara itu, Regional CEO BRI Region 17 Denpasar, Hery Noercahya, menyatakan bahwa sektor usaha berbasis tradisi dan budaya seperti pembuatan tedung memiliki peran penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat Bali. Karena itu, dukungan terhadap pelaku usaha lokal perlu terus diperkuat agar mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman.
Menurutnya, digitalisasi layanan perbankan tidak hanya mempermudah transaksi pembayaran, tetapi juga membantu pelaku usaha dalam mengelola pembelian bahan baku dan pencatatan keuangan secara lebih tertata.
“Pemanfaatan layanan digital dapat mendukung pengelolaan usaha yang lebih baik. Selain memudahkan transaksi, catatan keuangan yang terdokumentasi dengan baik juga membuka peluang lebih besar bagi pelaku usaha untuk mengakses layanan pembiayaan perbankan di masa depan,” ujarnya.
Keberlangsungan usaha tedung di Paksebali menjadi bukti bahwa tradisi dan modernisasi dapat berjalan beriringan. Di satu sisi, para perajin tetap menjaga warisan budaya Bali yang telah diwariskan lintas generasi. Di sisi lain, pemanfaatan teknologi dan layanan keuangan digital membantu meningkatkan daya saing usaha agar tetap relevan di tengah perkembangan ekonomi yang semakin dinamis.

