Lulus Sangat Memuaskan, Dosen Unmas Resmi Kantongi Gelar Doktor Linguistik di FIB Udayana

Lulus Sangat Memuaskan, Dosen Unmas Resmi Kantongi Gelar Doktor Linguistik di FIB Udayana

Promovenda, I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika (kiri berdiri), dinyatakan lulus ujian promosi doktor. (foto: ist.)

Denpasar (Penabali.com) – Program Studi Linguistik Program Doktor, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana menyelenggarakan Promosi Doktor dengan promovenda I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika pada Selasa, 9 Agustus 2022 secara hybrid di ruang Dr. Ir. Soekarno, Gedung Poerbatjaraka, FIB Unud.

Promovenda adalah dosen Universitas Mahasaraswati, Denpasar. Ujian terbuka dipimpin Dekan FIB Unud, Dr. Made Sri Satyawati, S.S., M.Hum., didampingi Promotor, Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., serta Kopromotor I, Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A., dan Kopromotor II, Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A.

Dalam ujian terbuka, I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika berhasil mempertahankan disertasi dengan judul “Kesantunan Berbahasa Pemandu Acara dan Para Narasumber dalam Acara Kick Andy”. Setelah melalui tahapan ujian terbuka, I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika dinyatakan lulus dengan predikat sangat memuaskan dan merupakan Doktor ke-171 di FIB Unud dan Doktor ke-211 di Program Studi Linguistik Program Doktor.

Tim penguji terdiri atas Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A., Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A., Prof. Dr. I Ketut Darma Laksana, M.Hum., Prof. Drs. I Dewa Komang Tantra, M.Sc., Ph.D., Dr. Ni Ketut Widya Purnawati, S.S., M.Hum., Dr. Ni Ketut Widhiarcani Matradewi, S.S., M.Hum., dan Drs. I Nyoman Udayana, M.Litt., Ph.D.

Rekaman ujian promosi doktor dapat disaksikan di kanal Youtube Media FIB: https://www.youtube.com/watch?v=_yqICX0298Q.

Struktur Percakapan

Dalam disertasinya, I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika menjelaskan bahwa pada acara Kick Andy periode 2019, terdapat dua jenis struktur percakapan, yaitu bentuk dasar dan bentuk perluasan. Strategi kesantunan umum yang digunakan dapat dibedakan menjadi kesantunan-neg dan kesantunan-pos. Kesantunan-neg terdiri atas maksim kearifan, maksim kerendahan hati, maksim kewajiban O terhadap S, sedangkan, pada kesantunan-pos meliputi maksim kedermawanan, maksim penghargaan, maksim kewajiban S terhadap O, maksim kesepakatan, dan maksim kesimpatian. Jika dilihat dari strategi kesantunan alternatif yang digunakan, penelitian ini menemukan adanya penggunaan bahasa yang akrab dan kasual, serta adanya penggunaan banter.

Temuan Penelitian

Dalam disertasinya, I Gusti Ayu Agung Sintha Satwika menemukan bahwa dalam mewawancarai narasumber, pemandu acara menggunakan tuturan berbentuk imperatif. Pada maksim kearifan, indikator kesantunan salah satunya adalah dengan penggunaan tuturan tidak langsung. Namun, penggunaan tuturan imperatif pada konteks talk show tidaklah mencerminkan ketidaksantunan, karena pemandu acara memiliki wewenang untuk mengatur jalannya acara atau wawancara, maupun giliran berbicara.

Penerapan maksim kerendahan hati ditunjukkan oleh bahasa tubuh tertentu, yaitu narasumber menundukkan pandangan, saat mendengar pemandu acara menyebutkan bahwa narasumber memiliki banyak penghargaan di bidang matematika. Bahasa tubuh ini dilakukan untuk menghindari kesan untuk menonjolkan diri.

Makna Disertasi

Prof. Dr. Ni Luh Sutjiati Beratha, M.A., selaku promotor menyampaikan bahwa hasil penelitian promovenda memiliki signifikansi, pengaruh dan dampak positif dalam dunia pengajaran dan pembelajaran bahasa utamanya untuk tenaga pendidik.

Di akhir penyampaiannya, Prof. Dr. I Nyoman Weda Kusuma, M.Hum., selaku promotor juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih setinggi-tingginya kepada Prof. Dr. I Nengah Sudipa, M.A., dan Prof. Dr. Made Budiarsa, M.A., selaku kopromotor, para dosen penguji, serta seluruh dosen pengajar yang telah membimbing promovenda selama menempuh pendidikan di Program Studi Linguistik Program Doktor sehingga dapat meraih gelar akademik tertinggi. (rls)

Sumber: http://www.unud.ac.id

Bagikan berita ini...

Leave a Reply

Your email address will not be published.